Buka konten ini

(Foto Kanan) Sejumlah pencari lebah mendengarkan pengarahan dari Tim SAR sebelum berangkat ke lokasi pencarian korban kecelakaan pesawat. Foto: JP GROUP
Kabut tebal, lereng karst yang licin, serta tebing curam di Gunung Bulusaraung menjadi medan berat pencarian pesawat ATR 42-500 yang jatuh di perbatasan Maros dan Pangkep. Di tengah keterbatasan akses dan alat, 19 pencari madu lebah hutan turun gunung, menjadi penunjuk jalur bagi tim SAR gabungan menembus rute-rute ekstrem yang tak pernah dilalui pendaki umum.
KABUT tebal menggantung rendah di lereng Gunung Bulusaraung, kawasan karst yang membentang di wilayah Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Jarak pandang hanya beberapa meter. Angin kencang dan hujan yang turun sejak pagi membuat tanah licin dan berbahaya. Tebing-tebing tajam khas karst mengapit hampir seluruh jalur.
Di medan ekstrem itulah tim SAR gabungan harus bergerak melakukan pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh pada Sabtu (17/1) lalu. Di antara ratusan personel yang dikerahkan, turut dilibatkan 19 warga lokal yang sehari-hari dikenal sebagai pencari madu lebah hutan.
Para pencari madu ini dilibatkan karena terbiasa keluar masuk hutan dan menyusuri jalur ekstrem Bulusaraung, tempat lebah hutan kerap bersarang. Lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 —yang mengangkut tujuh kru dan tiga penumpang— bukan jalur pendakian umum. Lerengnya terjal, dengan tebing curam di hampir setiap sisi, sehingga rumput dan bebatuan menjadi satu-satunya pegangan.
Ke-19 warga tersebut bukan sekadar pelengkap. Mereka menjadi bagian inti tim sebagai penunjuk jalur, membuka akses bagi ratusan personel SAR yang diturunkan Basarnas. Koordinator pencari lebah hutan, Mursalim Yunus, mengatakan pengalaman mereka mencari madu membuat para pencari lebah sangat mengenal medan yang jarang dijamah manusia.
“Pengalaman keluar masuk hutan inilah yang kami harapkan bisa membantu proses pencarian,” ujarnya saat ditemui di posko utama, Selasa (20/1).
Hingga Rabu (21/1), dua jenazah telah ditemukan. Korban pertama ditemukan di wilayah Maros, sedangkan korban kedua ditemukan di Pangkep. Sementara itu, kotak hitam ditemukan pada jarak sekitar 131 meter dari puncak gunung yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.
Menurut Mursalim, lokasi penemuan korban berada di lintasan yang bahkan tidak biasa dilalui pendaki maupun warga sekitar.
“Biasanya hanya dilewati dalam kondisi tertentu, misalnya saat berburu rusa. Kawasan itu dikenal sebagai daerah pakan rusa,” jelasnya.
Ironisnya, jalur ekstrem tersebut justru menjadi lokasi favorit lebah hutan bersarang, terutama saat musim kemarau.
“Lebah liar banyak ditemukan di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau, termasuk di titik penemuan korban pesawat jatuh,” tuturnya.
Untuk menembus kawasan tersebut, tim SAR dibagi ke dalam lima kelompok kecil. Setiap kelompok dipandu penunjuk jalur yang memahami kontur tanah, arah tebing, serta jalur sempit yang masih memungkinkan dilalui dengan relatif aman. Dua orang lainnya disiagakan di titik pantau untuk mengamati pergerakan tim dan menjadi penghubung di tengah keterbatasan komunikasi.
Seluruh upaya pencarian mengandalkan tenaga manusia. Tidak ada akses kendaraan maupun alat berat. Pelibatan warga lokal ini mengubah metode pencarian. Tim tidak lagi bergerak melalui jalur pendakian menuju puncak, melainkan melakukan penyisiran melingkar mengikuti kontur lereng.
Najamuddin, salah satu pencari lebah hutan, mengaku telah puluhan kali menyusuri lereng Bulusaraung untuk mencari madu, terutama saat musim kemarau. “Lebah liar justru banyak ditemukan di jalur-jalur ekstrem,” katanya.
Ia menggambarkan medan yang dilalui sebagai jalur sempit dengan tebing curam di hampir setiap sisi.
“Kami hanya bisa berpegangan pada rumput. Batu yang dipijak atau dipegang bisa saja lepas,” tuturnya.
Kondisi licin, kabut tebal, dan jalur terjal itulah yang membuat kawasan tersebut jarang dilewati, kecuali oleh mereka yang benar-benar memahami medan. “Risikonya besar, tetapi kami sudah terbiasa. Medannya memang penuh bahaya,” kata Najamuddin.
Investigasi, Black Box Dikirim ke KNKT
Hingga Rabu (21/1), dua jenazah telah ditemukan. Korban pertama ditemukan di wilayah Maros, sedangkan korban kedua di Pangkep. Pada hari kelima operasi SAR, tim gabungan juga berhasil menemukan kotak hitam (black box) pesawat di sekitar badan pesawat, sekitar 131 meter dari puncak gunung yang masuk kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.
Kepala Kantor SAR Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengatakan black box yang ditemukan dalam kondisi lengkap, yakni Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Temuan tersebut diperoleh sekitar pukul 11.00 WITA saat tim melakukan penyisiran lanjutan di sektor pencarian.
“Black box yang ditemukan terdiri dari Flight Data Recorder dan Cockpit Voice Recorder. Keduanya ditemukan di sekitar badan pesawat oleh Tim SAR Gabungan,” kata Arif dalam keterangannya.
Usai ditemukan, black box langsung dibawa ke posko utama untuk selanjutnya diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) guna kepentingan investigasi.
Arif menjelaskan, FDR berfungsi merekam berbagai parameter penerbangan, mulai dari ketinggian, kecepatan, arah, posisi pesawat, hingga kinerja mesin. Data tersebut menjadi kunci bagi KNKT untuk merekonstruksi kronologi penerbangan sebelum kecelakaan terjadi.
Sementara itu, CVR merekam percakapan di dalam kokpit selama penerbangan, termasuk komunikasi antarkru serta suara-suara penting lainnya. Umumnya, FDR dan CVR ditempatkan di bagian ekor pesawat.
“Penempatan di ekor dirancang karena bagian tersebut dinilai memiliki tingkat ketahanan lebih tinggi saat terjadi benturan, sehingga peluang penyelamatan data lebih besar,” jelas Arif. (***)
LAPORAN: SAKINAH FITRIANTI
Editor : RATNA IRTATIK