Buka konten ini
KEPASTIAN pasokan air bersih kini menjelma menjadi isu strategis yang menentukan arah daya saing industri Batam. Di tengah meningkatnya tekanan terhadap sumber air baku dan belum tuntasnya persoalan distribusi, pelaku industri mulai memberi sinyal peringatan: tanpa jaminan air yang andal dan berkelanjutan, posisi Batam sebagai kawasan industri unggulan berisiko tergerus.
Koordinator Wilayah Himpunan Kawasan Industri (HKI) Batam, Adhy Prasetyo Wibowo, menegaskan bahwa air bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan utilitas kunci yang menopang hampir seluruh rantai produksi industri manufaktur. Ketidakpastian pasokan air, kata dia, berdampak langsung pada stabilitas proses produksi hingga kualitas hasil akhir.
“Dalam manufaktur, air dipakai mulai dari proses inti seperti pembersihan, pencampuran, dan pendinginan, hingga utilitas pendukung seperti boiler, chiller, serta sanitasi dan keselamatan kerja. Ketika air tidak pasti, bukan hanya volume produksi yang terganggu, tapi juga konsistensi dan kualitas,” ujarnya.
Adhy menjelaskan, kondisi pasokan air yang terbatas atau fluktuatif memaksa industri menanggung biaya tambahan, baik untuk penyimpanan, pengolahan mandiri, maupun pengamanan proses.
Risiko paling besar, menurutnya, adalah terganggunya kontinuitas produksi, terutama pada sektor elektronik presisi, alat kesehatan, dan industri kimia yang sangat bergantung pada suplai air yang stabil.
Tekanan terhadap kebutuhan air industri juga mengalami perubahan karakter seiring masuknya investasi baru, khususnya data center. Berbeda dengan manufaktur konvensional yang masih memiliki ruang fleksibilitas penjadwalan, data center menuntut pasokan air besar, kontinu, dan nyaris tanpa toleransi gangguan.
“Data center membutuhkan reliability 24 jam. Begitu pasokan air tidak stabil, risiko operasional langsung meningkat dan ini akan memengaruhi persepsi risiko Batam sebagai lokasi industri sekaligus digital hub,” kata Adhy.
HKI mencatat, hingga saat ini kawasan industri masih berupaya menjaga operasional melalui berbagai penyesuaian internal. Namun, pada periode tertentu ketika pasokan air berada dalam tekanan, sebagian pelaku industri mulai merasakan kendala, baik dari sisi volume maupun kepastian suplai.
Tekanan tersebut belum selalu tampak sebagai krisis terbuka, tetapi nyata dirasakan di lapangan. Karena itu, HKI terus menyampaikan kondisi ini kepada pengelola air dan pemangku kepentingan agar ditangani secara sistemik, bukan sekadar respons jangka pendek saat gangguan terjadi.
Dari sisi kesiapan internal, HKI menilai kawasan industri Batam memiliki fondasi awal untuk mendorong efisiensi penggunaan air. Sejumlah kawasan telah memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang memungkinkan penerapan reuse dan daur ulang air. Bahkan, salah satu kawasan industri di Batam telah ditetapkan sebagai proyek percontohan Eco Industrial Park melalui kerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).
Namun, Adhy menegaskan bahwa efisiensi dan daur ulang air bukan solusi instan. Penerapannya membutuhkan investasi teknologi yang tidak kecil, kepastian regulasi, standar mutu air olahan yang jelas, serta insentif yang mendorong industri untuk beralih secara berkelanjutan, bukan hanya oleh segelintir pelaku besar.
Dalam konteks iklim investasi, HKI menilai keterbatasan air bersih merupakan faktor risiko nyata yang tidak bisa diabaikan. Bagi investor, khususnya di sektor data center dan manufaktur berteknologi tinggi, ketersediaan air kini menjadi variabel penentu.
“Data center memilih lokasi berdasarkan tiga hal utama: listrik, konektivitas, dan air. Jika salah satu tidak pasti, investasi bisa dialihkan ke daerah atau negara lain,” ujarnya.
Meski demikian, HKI melihat persoalan air bukan semata ancaman, melainkan tantangan bersama yang harus dijawab melalui perencanaan infrastruktur air jangka panjang, peningkatan efisiensi lintas sektor, serta kolaborasi erat antara pemerintah, pengelola kawasan, penyedia utilitas, dan pelaku industri.
Tanpa langkah terintegrasi dan kepastian kebijakan, tekanan terhadap sumber air tidak hanya berisiko menghambat investasi baru, tetapi juga menggerus keberlanjutan industri manufaktur yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Batam. (*)