Buka konten ini

Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
IMUNISASI adalah satu dari dua kegiatan kesehatan masyarakat yang paling berhasil di dunia. Tujuan akhir yang mulia dari imunisasi adalah kesejahteraan umat manusia. Manfaat besar imunisasi tidak terbantahkan yang, antara lain, ditandai dengan lenyapnya tiga penyakit (cacar, rinderpest, dan 2/3 polio liar), menurun tajamnya angka kesakitan dan kematian, terutama pada bayi dan anak, serta beberapa hal tambahan lain.
Saat ini tidak ada negara di dunia yang tidak mempunyai program imunisasi, termasuk Indonesia. Pemerintah memberikan 14 antigen vaksin dengan tujuan utama adalah bayi dan anak serta ibu hamil. Imunisasi juga terbukti aman. Di setiap negara selalu ada berbagai lembaga yang senantiasa memantau aspek keamanan tersebut, sejak penelitian laboratorium, uji klinik pada manusia, hingga setelah vaksin diedarkan.
Belum Mandiri
Sekalipun sejarah panjang imunisasi telah dimulai pada abad ke-18, Indonesia hingga saat ini belum mempunyai vaksin yang sejak penemuan hingga produksi secara massal dilakukan sepenuhnya oleh bangsa kita, kecuali vaksin INAVAC. Hal ini menjadi tantangan tersendiri di masa depan mengingat banyak program pemerintah yang saat ini berfokus pada kemandirian sebagai bangsa.
Indonesia juga masih direpotkan oleh banyak penyakit infeksi yang tidak mempunyai vaksin. Hal itu menjadi sebuah peluang untuk tidak sekadar menjadi pengekor, tetapi dapat menentukan sendiri arah yang hendak dituju. Membuat vaksin yang kita perlukan di dalam negeri adalah suatu keunggulan.
Vaksin sebenarnya belum berfungsi sepanjang belum dimasukkan ke tubuh manusia. Karena itu, program imunisasi yang berhasil, yang antara lain ditandai dengan cakupan yang tinggi dan merata, menjadi idaman berikutnya. Program imunisasi massal sejak 1977 telah dijalankan di seluruh pelosok negeri. Namun, cakupan kita belum seperti yang diharapkan.
Pandemi
Selama pandemi Covid-19, cakupan tersebut hancur lebur. Setelah pandemi, keberhasilan dalam mengajak sebanyak mungkin sasaran imunisasi belum kembali seperti sebelumnya, dan jelas pencapaian tersebut tidak merata. Ini menjadi sebuah tantangan yang harus diperbaiki.
Sebagai konsekuensi program imunisasi yang belum optimal, data kesakitan dan kematian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau PD3I seperti difteri, pertusis, tuberkulosis, tetanus, campak, dan hepatitis B masih belum menggembirakan. Dalam banyak penyakit, kita mencatat angka yang tinggi atau bahkan sangat tinggi di tingkat regional maupun dunia. Itu pun bukan sesuatu yang baik dan seyogianya menjadi salah satu fokus untuk diperbaiki di masa depan.
Di negara maju, imunisasi mencatat banyak kemajuan, baik dalam hal jenis dan jumlah platform vaksin, penyakit yang ditanggulangi, maupun jumlah individu yang menerima. Memang, hal tersebut juga belum merata di seluruh dunia. Namun, semua pihak sedang berupaya keras mencatat kemajuan dari waktu ke waktu. Kemajuan teknologi, keterlibatan lebih banyak industri vaksin, serta peran para ahli di seluruh dunia menjadi penopang kuat.
Ketakutan
Tantangan terbesar dalam hal imunisasi saat ini mungkin berupa vaccine hesitancy atau keraguan orang untuk menerima vaksin ketika vaksinnya tersedia. Hal itu bisa terjadi, antara lain, akibat ketakutan terhadap efek samping vaksin dan merebaknya hoaks di era media sosial.
Bagi Indonesia, situasi politik negara maju yang tidak kondusif belakangan ini menjadi tambahan alasan. Butuh kerja keras dari semua pihak untuk memperbaiki situasi. Telah berulang-ulang bangsa kita menghadapi tantangan yang bisa diselesaikan dengan kerja sama semua pihak. Imunisasi pun tidak terkecuali. Semoga. (*)