Buka konten ini

PELEMAHAN tajam nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing dalam sepekan terakhir memicu kewaspadaan di kalangan dunia usaha Batam.
Berdasarkan data Kurs Transaksi Bank Indonesia (BI) per Senin, (19/1), nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) tercatat berada di level Rp16.964,40 per USD (kurs jual) dan Rp16.795,60 (kurs beli). Sementara itu, dolar Singapura (SGD) menguat ke Rp13.168,05 (jual) dan Rp13.031,97 (beli), sedangkan ringgit Malaysia (MYR) berada di kisaran Rp4.184,61 (jual) dan Rp4.137,87 (beli). Penguatan mata uang negara mitra dagang utama ini semakin menegaskan tekanan terhadap struktur biaya industri dan strategi keuangan dunia usaha di Batam.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid menilai, depresiasi rupiah membawa dua sisi bagi dunia usaha. Di satu sisi menguntungkan eksportir, namun di sisi lain menambah tekanan bagi perusahaan yang bergantung pada impor atau memiliki kewajiban utang dalam valuta asing.
Meski demikian, Rafki menyebut masih diperlukan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melihat dampak riil pelemahan rupiah terhadap kinerja ekspor Batam.
“Seharusnya, dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara mitra dagang, volume ekspor dari Batam meningkat,” ujarnya, Senin (19/1).
Menurut Rafki, perusahaan berbasis ekspor di Batam relatif berada dalam posisi aman. Kenaikan biaya impor bahan baku dan mesin produksi memang tidak terhindarkan, tetapi sebagian besar industri masih dapat mengompensasinya melalui peningkatan penerimaan ekspor.
“Karena mayoritas perusahaan di Batam menjual produknya ke luar negeri, kenaikan biaya impor tersebut masih bisa tertutupi oleh pendapatan ekspor,” jelasnya.
Selain itu, struktur biaya perusahaan juga masih ditopang komponen domestik yang dibayar dalam rupiah, seperti upah tenaga kerja. Dalam kondisi rupiah melemah, faktor ini justru menciptakan margin tambahan bagi eksportir.
Namun demikian, Rafki mengingatkan adanya risiko besar yang kerap luput diperhitungkan, yakni utang dalam mata uang asing.
“Kalau perusahaan memiliki utang dalam valuta asing yang nilainya menguat, maka beban pembayaran utang otomatis semakin berat,” ujarnya.
Sebaliknya, perusahaan yang memiliki pinjaman dari perbankan domestik dalam rupiah justru diuntungkan karena nilai kewajiban relatif lebih ringan. Rafki menambahkan, sebagian pelaku usaha telah mengantisipasi volatilitas kurs melalui mekanisme hedging.
“Secara sederhana, hedging adalah bertransaksi untuk masa depan menggunakan nilai tukar hari ini. Dengan begitu, ketika kurs berfluktuasi, perusahaan tidak menanggung kerugian akibat naik-turunnya nilai tukar,” kata Rafki.
Peluang Besar Bagi Usaha Lokal dan Pariwisata
Penguatan dolar Singapura dan ringgit Malaysia terhadap rupiah juga membawa dampak positif bagi sektor pariwisata dan perdagangan Batam. Arus kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura dan Malaysia, tercatat meningkat signifikan.
Pengusaha Batam sekaligus putra daerah, Datuk Amat Tantoso, mengatakan, lonjakan kunjungan wisatawan asing sangat terasa, terutama pada akhir pekan.
“Sekarang turis Singapura dan Malaysia masuk ke Batam sangat banyak. Dampaknya langsung terasa ke ekonomi. Bahkan saat akhir pekan, jumlahnya bisa mencapai 10 ribu orang per hari,” ujarnya.
Menurut Datuk Amat, penguatan mata uang asing menjadi faktor utama yang mendorong Batam sebagai destinasi belanja, kuliner, dan hiburan murah bagi wisatawan negara tetangga.
Ketua Umum Afiliasi Penukaran Valuta Asing Indonesia (APVA) itu menjelaskan, penguatan dolar Singapura, ringgit Malaysia, hingga dolar AS memberikan efek berantai terhadap sektor pariwisata, perdagangan, perhotelan, dan jasa.
“Dolar menguat, rupiah melemah. Ini yang membuat Batam sangat menarik bagi wisatawan asing,” katanya.
Berdasarkan data kurs per 19 Januari 2026, dolar Singapura berada di kisaran Rp13.150–Rp13.180, naik dibandingkan Januari 2025 yang masih di level Rp11.960–Rp11.990. Ringgit Malaysia tercatat di kisaran Rp4.160–Rp4.180, meningkat dari Rp3.620–Rp3.640. Sementara dolar AS berada di rentang Rp16.920–Rp16.970, naik dari Rp16.360–Rp16.410.
“Rata-rata, dolar Singapura naik sekitar 10 persen per tahun, ringgit Malaysia sekitar 15,2 persen, dan dolar AS sekitar 3,4 persen. Dampaknya sangat terasa di Batam,” ujarnya.
Penguatan mata uang asing itu terlihat langsung di lapangan. Kawasan perbelanjaan seperti Penuin dan BCS Mall di Lubukbaja hampir selalu dipadati pengunjung pada akhir pekan.
Tingkat hunian hotel di kawasan tersebut juga meningkat signifikan.
“Kalau akhir pekan, Penuin dan BCS Mall penuh. Hotel-hotel di sekitarnya juga hampir selalu penuh,” katanya.
Datuk Amat menambahkan, pola belanja wisatawan asing pun semakin jelas. Banyak turis datang dengan koper kosong dan kembali dengan koper penuh belanjaan.
“Mereka belanja, makan murah, ke salon, pijat. Pulangnya koper penuh, tapi tetap lebih hemat karena mata uang mereka kuat,” ujarnya.
Melihat peluang tersebut, Datuk Amat mendorong pengusaha dan pemerintah memanfaatkan momentum penguatan dolar secara maksimal. Salah satunya dengan mengembangkan kawasan wisata dan belanja baru melalui konsep “New Nagoya”.
Ia mengusulkan pengembangan kawasan Nagoya dengan konsep boulevard atau jalur khusus pejalan kaki, seperti di Osaka, Jepang, atau sejumlah kota besar di Tiongkok.
“Konsepnya bisa jalan khusus pejalan kaki. Saat akhir pekan kendaraan tidak boleh masuk, tapi pemerintah juga harus menyiapkan area parkir yang memadai,” jelasnya.
Menurutnya, pengembangan kawasan tersebut berpotensi memperluas dampak ekonomi hingga ke area sekitar Hotel Sahid sampai kawasan Siang Malam.
“Pariwisata naik pesat karena rupiah melemah. Kita ingin ekonomi menyebar ke Nagoya bagian lain. Kalau ada boulevard, pertokoan pasti makin ramai,” katanya.
Datuk Amat juga menyatakan kesiapan pengusaha lokal untuk berkolaborasi dengan pemerintah, baik melalui investasi bersama maupun dukungan perbankan.
“Momentum dolar menguat ini jangan disia-siakan. Turis datang banyak, daya beli tinggi. Ini kesempatan emas bagi pengusaha Batam untuk tumbuh dan berkembang,” tutupnya. (***)
Laporan : ARJUNA – RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK