Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Davos, Swiss, kembali menjadi panggung perebutan modal global. Pada Annual Meeting World Economic Forum (WEF) 2026 yang mulai berlangsung Senin (19/1) waktu setempat, Indonesia datang membawa umpan utama yakni, energi, pangan, dan manufaktur. Tiga sektor itu disiapkan sebagai magnet untuk menarik investor dunia.
Pengamat menilai pilihan sektor tersebut tepat sasaran. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menyebutkan, arus investasi global kini mengarah ke sektor strategis yang memberi efek ungkit besar bagi pertumbuhan ekonomi.
Energi menjadi sorotan utama. Terlebih, pemerintah tengah menggenjot transisi menuju energi hijau. “Indonesia sangat membutuhkan investasi di sektor transisi energi, energi terbarukan, serta industri hijau. Presiden juga mencanangkan pengembangan kapasitas listrik hingga 100 gigawatt,” ujar Esther.
Tak kalah penting, sektor pangan ikut dipromosikan. Selain menopang ketahanan nasional dan regional, investasi pangan dinilai mampu mendorong industri padat karya. Dampaknya langsung terasa pada penyerapan tenaga kerja dan penguatan ekonomi daerah.
Dari sisi manufaktur, Indonesia mengandalkan industri bernilai tambah tinggi. Salah satu andalan ialah penguatan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Menurut Esther, EV bukan sekadar soal otomotif, melainkan menyangkut rantai pasok mineral, baterai, hingga teknologi pendukung. “Nilai tambahnya besar dan bisa memperkuat posisi Indonesia dalam industri global,” katanya.
Namun, potensi saja tidak cukup. Esther menegaskan perlunya strategi pendekatan yang lebih tajam kepada investor. “Investor tertarik kalau insentif bersifat customize.
Pendekatannya tidak hanya lewat forum besar, tetapi juga personal,” ujarnya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyatakan, partisipasi Indonesia di WEF Davos 2026 merupakan bagian dari diplomasi ekonomi berkelanjutan. Tujuannya memperkuat daya saing nasional sekaligus memperluas jejaring investasi.
“Indonesia menawarkan stabilitas ekonomi, kepastian kebijakan, serta peluang investasi jangka panjang yang kompetitif,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : Andriani Susilawati