Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Demam investasi emas kian terasa di tengah lonjakan harga logam mulia sepanjang setahun terakhir. Momentum itu dimanfaatkan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) lewat layanan bank emas (bullion bank). Hasilnya, hingga akhir 2025, penjualan emas BSI melesat dan menembus lebih dari 2 ton.
Corporate Communication Department Head BSI, Siti Darojah Sri Wahyuni mengatakan, sejak mengantongi izin bullion bank pada 26 Februari 2025, transaksi emas di BSI terus menunjukkan tren meningkat. “Kami sudah menjual sekitar 2,1 ton emas. Sejak izin bullion terbit, minat masyarakat sangat tinggi,” ujarnya saat audiensi belum lama ini.
Dari sisi harga, emas juga mencatat kinerja impresif. Direktur Distribution and Sales BSI Anton Sukarna mengungkapkan, sejak diluncurkan Februari 2025, harganya telah melonjak hingga 56,22 persen secara year to date (Ytd). Kenaikan itu membuat emas kian dilirik sebagai instrumen lindung nilai di tengah dinamika ekonomi global.
Investasi emas BSI dilakukan secara digital melalui layanan BYOND. Lewat BYOND, nasabah bisa membeli, menjual, mentransfer, hingga mencetak emas fisik. Keamanan kepemilikan juga terjaga karena emas disimpan di smart vault milik bank, sehingga nasabah tak perlu khawatir risiko kehilangan.
Hingga Desember 2025, jumlah nasabah khusus layanan bullion bank mencapai 500 ribu orang, didominasi kelompok usia 20–40 tahun atau generasi Z dan milenial. “Minat generasi muda terhadap investasi emas cukup tinggi. Ini menunjukkan layanan emas bersifat inklusif dan bisa diterima semua kalangan,” kata Anton.
Harga Logam Mulia Berpotensi Rp2,8 Juta
Ketidakpastian geopolitik global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih menjadi pendorong utama pergerakan harga emas pada pekan depan. Kondisi tersebut membuka peluang harga logam mulia atau salah satunya emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menembus level Rp2,8 juta per gram.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tren harga emas dunia masih berada dalam fase fluktuatif dengan kecenderungan menguat, seiring meningkatnya risiko global dan pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Namun demikian, Ibrahim mengingatkan potensi koreksi tetap terbuka. Support pertama harga emas dunia berada di level USD4.553 per troy ounce, yang berpotensi menekan harga emas domestik ke kisaran Rp2.638.000 per gram.
“Kalau seandainya turun lagi di support kedua di USD 4.488, ada kemungkinan harga logam mulia akan turun di Rp2.560.000. Itu seandainya harga emas dunia turun,” kata Ibrahim dalam analisisnya, Minggu (18/1).
Di sisi lain, peluang penguatan dinilai lebih besar jika sentimen global kembali memanas. Resistance pertama emas dunia berada di level USD 4.655 per troy ounce dengan estimasi harga emas Antam di Rp2.700.000 per gram.
“Kemudian di resistance kedua kemungkinan besar akan mengalami penguatan untuk harga emas dunia di USD 4.706 per troy ounce. Logam mulianya di Rp2.820.000. Ingat, ada kemungkinan besar harga logam mulia itu di Rp2.820.000,” jelas Ibrahim.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga menjadi faktor pendukung kenaikan harga emas. Berdasarkan analisis teknikal, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih berisiko melemah pada pekan depan.
“Target pertama pelemahan rupiah berada di Rp16.920. Bahkan pelemahan mata uang rupiah kemungkinan besar ya itu di minggu depan di Rp17.100,” ungkapnya.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menunjukkan bahwa intervensi Bank Indonesia serta kebijakan pemerintah sejauh ini belum mampu mendorong penguatan rupiah secara signifikan.
Lebih lanjut, Ibrahim membeberkan ada sejumlah faktor global yang membuat harga emas dunia dan logam mulia bergerak fluktuatif. Pertama, eskalasi perang dagang, salah satunya Uni Eropa pada Jumat pekan lalu menerapkan bea dumping terhadap produk alumina leburan asal Tiongkok sebesar 88,7 persen hingga 110,6 persen, yang berpotensi dibalas oleh Tiongkok pada pekan depan.
Kedua, Amerika Serikat berencana menerapkan biaya impor sebesar 20 persen terhadap produk Eropa, dipicu isu geopolitik terkait Greenland. Ketiga, situasi politik dalam negeri AS yang terus memanas, termasuk pemanggilan Ketua The Fed Jerome Powell oleh Jaksa Agung terkait pembangunan Bank Sentral AS.
Adapun faktor ke-empat adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih berlanjut, sementara faktor kelima berasal dari ketidakpastian kebijakan moneter global yang mendorong investor kembali mencari aset aman.
“Dengan kondisi seperti ini, emas masih menjadi pilihan lindung nilai utama. Selama ketidakpastian global dan pelemahan rupiah berlanjut, peluang emas Antam menembus Rp2,8 juta sangat terbuka,” pungkas Ibrahim. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI