Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Ketua Umum Partai Gema Bangsa Ahmad Rofiq membeberkan alasan partainya sejak awal langsung menyatakan dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk kembali maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2029. Menurutnya, membangun Indonesia sebagai negara besar tidak mungkin diselesaikan hanya dalam waktu lima tahun.
Pernyataan itu disampaikan Rofiq saat ditemui awak media usai deklarasi Partai Gema Bangsa di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (17/1). Ia menilai seorang presiden membutuhkan setidaknya dua periode atau sekitar 10 tahun untuk merealisasikan gagasan, visi, dan misi kepemimpinannya secara utuh.
Rofiq menegaskan, satu periode kepemimpinan belum cukup untuk menguji apakah ide dan program seorang pemimpin benar-benar mampu diwujudkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, Partai Gema Bangsa berpandangan masa jabatan pertama Presiden Prabowo perlu dilanjutkan ke periode kedua.
“Membangun Indonesia yang begitu besar tidak cukup hanya lima tahun. Itu tidak realistis. Dua periode adalah syarat minimal agar seorang pemimpin bisa teruji, apakah gagasan dan misi perjuangannya dapat tercapai atau tidak,” ujarnya.
Ia menilai, jika hanya memimpin selama satu periode, hasil pembangunan yang dirasakan masyarakat akan sangat terbatas. Sebaliknya, dalam rentang waktu 10 tahun, manfaat dan dampak kebijakan diyakini akan lebih nyata. Atas dasar itu, Partai Gema Bangsa yang baru dideklarasikan langsung menyatakan dukungan kepada Prabowo untuk kembali maju pada Pilpres 2029.
“Kalau cuma lima tahun, menurut saya tidak akan banyak yang dihasilkan. Tapi kalau 10 tahun, saya yakin dampaknya bisa kita rasakan,” katanya.
Meski mendukung Prabowo, Rofiq mengakui bahwa garis politik Partai Gema Bangsa tidak selalu sejalan dengan partai-partai lain, termasuk yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM). Ia menilai perbedaan pandangan merupakan hal lumrah dalam demokrasi dan justru bisa menjadi kontribusi positif bagi pembangunan bangsa.
“Pak Prabowo kami dukung, itu jelas. Tapi dalam membangun bangsa, kami punya idealisme dan gagasan sendiri yang belum tentu sama dengan siapa pun. Kami ini bisa dibilang antitesis dari partai-partai lain. Ketika praktik yang terlalu sentralistik merugikan demokrasi di akar rumput, kami mencoba mengambil jalan berbeda dengan memberi ruang kebebasan,” tuturnya.
Karena itu, Partai Gema Bangsa mengusung konsep desentralisasi politik dengan memberikan kewenangan lebih luas kepada pengurus di daerah. Rofiq mencontohkan kepengurusan Partai Gema Bangsa di Lhokseumawe yang seluruhnya diisi oleh perempuan. Laki-laki tidak diperkenankan menjadi pengurus, namun tetap boleh menjadi anggota atau calon.
“Pengurusnya perempuan semua. Laki-laki dilarang jadi pengurus, tapi boleh jadi anggota atau calon. Itu sesuatu yang unik, supaya mereka bisa berimprovisasi. Itu bagian dari desentralisasi,” pungkasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO