Jumat, 13 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Budaya dan Rasa Nusantara Jadi Andalan Tarata Patisserie

BATAM (BP) – Di tengah pertumbuhan pesat industri food and beverage (F&B) di Batam, Tarata Patisserie hadir dengan pendekatan unik: menjadikan budaya Nusantara sebagai identitas utama produknya. Konsep ini sekaligus menjadi strategi diferensiasi dalam persaingan pasar kuliner yang semakin ketat.

Pemilik Tarata Patisserie, Fariano Ong, menjelaskan bahwa unsur budaya lokal menjadi fondasi pengembangan merek, termasuk dalam desain kemasan. Berbagai ikon Indonesia ditampilkan, mulai dari Candi Borobudur, tarian Pendet, Raja Ampat, motif batik, komodo, Jembatan Barelang, hingga gonggong, kuliner khas Kepulauan Riau.
“Konsep kami menggabungkan seni dan budaya lokal. Produk yang dihadirkan tidak sekadar kuliner, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kekayaan budaya Nusantara,” ujar Fariano, Jumat (16/1).

Pendekatan ini juga menjadi bagian dari strategi ekspansi. Selain memperkuat pasar lokal Batam, Tarata menargetkan perluasan ke Tanjung Uban serta beberapa kota di Tiongkok, termasuk Fujian dan Quanzhou.

Dari sisi menu, Tarata Patisserie menawarkan beragam pilihan. Mulai dari sajian bernuansa Nusantara, menu sarapan, hingga hidangan bergaya Barat yang dipadukan dengan roti dan pastry. Minumannya mencakup kopi dan racikan berbasis rempah-rempah Nusantara. Fariano menekankan, penggunaan rempah lokal menjadi ciri khas produk mereka.
“Rempah Nusantara diolah secara tradisional, tapi dikemas dengan pendekatan modern,” jelasnya.

Tarata juga memproduksi roti, pastry, cake, hingga kue lapis tradisional. Menjelang Imlek, permintaan terhadap kue lapis dan paket bingkisan meningkat.
Bangunan Tarata Patisserie dirancang berbeda di setiap lantai. Lantai pertama berkonsep formal untuk bersantap, sementara lantai dua kasual, dapat digunakan untuk pertemuan informal maupun bekerja. Tempat ini juga dapat difungsikan untuk acara kantor atau keluarga, dengan penyesuaian konsep ruang dan sajian.

Harga produk disesuaikan dengan standar pasar kafe Batam. Promosi dan komunikasi dengan konsumen dilakukan melalui platform digital dan media sosial.
Fariano berharap, pendekatan berbasis budaya lokal ini dapat menjadi nilai tambah dalam persaingan F&B, sekaligus memperkenalkan identitas kuliner Nusantara ke pasar yang lebih luas. (*)

Reporter : Azis Maulana
Editor : Jamil Qasim