Buka konten ini

KARIMUN (BP) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mengalami pengembangan. Setelah menyasar pelajar dan ibu hamil, penerima manfaat MBG kini bertambah, termasuk tenaga pendidik dan kelompok lanjut usia (lansia).
Koordinator Wilayah (Korwil) MBG Kabupaten Karimun, Anas Fitrawanda, membenarkan bahwa dalam ketentuan terbaru Badan Gizi Nasional (BGN), lansia masuk sebagai salah satu penerima manfaat MBG. Namun, pelaksanaannya di lapangan belum dapat dilakukan karena masih menunggu petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah pusat.
“Memang dalam ketentuan terbaru BGN, lansia sudah masuk sebagai penerima manfaat. Hanya saja, untuk saat ini pelaksanaannya belum bisa karena masih menunggu juknis,” ujar Anas kepada Batam Pos.
Ia menjelaskan, pemerintah pusat telah menargetkan lansia sebagai salah satu sasaran MBG. Namun, kepastian waktu pelaksanaannya masih menunggu regulasi teknis sebagai dasar pelaksanaan di daerah.
“Kalau juknisnya sudah keluar, tinggal kita laksanakan di lapangan,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Satgas MBG Kabupaten Karimun, Rocky Marciano Bawole, yang juga Wakil Bupati Karimun. Ia memastikan lansia akan menerima manfaat MBG, namun tetap bergantung pada juknis dari pusat.
“Untuk lansia memang sudah masuk dalam ketentuan, tapi pelaksanaannya masih menunggu juknis,” jelas Rocky.
Ia menambahkan, sejak program MBG berjalan hingga saat ini, jumlah penerima manfaat di Kabupaten Karimun telah mencapai sekitar 65 ribu orang.
Dalam ketentuan terbaru MBG, lanjut Rocky, juga diatur batas maksimal kapasitas dapur dalam menyalurkan makanan bergizi. Jika pada awal pelaksanaan satu dapur dapat menyalurkan hingga 3.000 porsi atau lebih, kini kapasitas maksimal dibatasi hanya 2.500 porsi per dapur.
“Awalnya dapur MBG masih sedikit. Sekarang sudah ada 29 izin dapur yang dikeluarkan, dengan rincian 22 dapur sudah beroperasi dan tujuh dapur masih dalam tahap pembangunan,” ungkapnya.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Karimun juga tengah mencari solusi terkait menu MBG yang dinilai terlalu sering menyajikan telur. Kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan pasokan bahan pangan tertentu di daerah. (*)
Reporter : Sandi Pramosinto
Editor : GUSTIA BENNY