Buka konten ini

Olahraga padel tengah naik daun, terutama di kalangan generasi muda dan komunitas urban. Perpaduan antara tenis dan squash ini dinilai seru, mudah dipelajari, dan cocok dimainkan bersama teman. Namun di balik keseruannya, padel juga menyimpan risiko cedera yang kerap tidak disadari pemain, terutama pemula.

DOKTER Spesialis Akupunktur Medik RS Awal Bros Batam, dr. Mia Sophia Irawadi, Sp.Ak, menjelaskan bahwa padel termasuk olahraga dengan intensitas tinggi dan gerakan repetitif. Tanpa persiapan yang baik, risiko nyeri hingga cedera cukup besar.
“Cedera yang paling sering dialami pemain padel adalah ketegangan otot atau muscle strain, terutama di punggung bawah, pinggang, paha, serta cedera sendi seperti lutut dan pergelangan kaki,” ujar dr. Mia dalam live Instagram halloawalbros.
Selain itu, gerakan mengayun raket secara berulang juga kerap memicu nyeri siku atau tennis elbow. Cedera ini termasuk overuse injury, yakni cedera akibat penggunaan otot dan sendi secara berlebihan.
Menurut dr. Mia, ada beberapa faktor utama yang memicu cedera saat bermain padel. Yang paling sering adalah kurangnya pemanasan sebelum bermain. Selain itu, teknik pukulan yang kurang tepat, cara memegang raket yang salah, durasi bermain terlalu lama, hingga riwayat cedera sebelumnya juga meningkatkan risiko cedera.
“Banyak yang terlalu memaksakan diri karena merasa permainan ini seru. Padahal tubuh punya batas. Kelelahan juga jadi faktor penting yang sering diabaikan,” jelasnya.
Dr. Mia menekankan bahwa nyeri bukan sesuatu yang boleh diabaikan. Nyeri merupakan sinyal peringatan dari tubuh. Salah satu nyeri yang umum dialami setelah olahraga adalah Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS), yaitu nyeri otot yang muncul 12–48 jam setelah aktivitas fisik.
“DOMS biasanya berupa pegal, kaku, atau nyeri ringan saat digerakkan. Ini masih tergolong wajar dan biasanya pulih sendiri dalam 1–3 hari,” katanya.
Penanganan nyeri ringan ini cukup dengan istirahat, kompres dingin selama 48 jam pertama, dilanjutkan kompres hangat, peregangan ringan, serta mencukupi asupan cairan. Bila perlu, bisa dibantu obat pereda nyeri ringan.
Namun, ada kondisi nyeri yang tidak boleh ditunda penanganannya. Misalnya nyeri hebat setelah jatuh, bengkak besar, memar luas, tidak bisa menggerakkan anggota tubuh, terdengar bunyi “pop” pada sendi, atau muncul mati rasa. “Itu tanda kegawatdaruratan dan harus segera ke IGD,” tegas dr. Mia.
Jika nyeri berlangsung lebih dari lima hari, sering kambuh setiap bermain, atau disertai rasa sendi seperti mau lepas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
Sebagai olahraga yang relatif baru dan bersifat musiman, banyak pemain padel yang belum memahami teknik dasar dengan benar. Ditambah lagi, tidak semua pemain mempersiapkan diri secara fisik sebelum bermain.
“Pemanasan itu wajib. Selain itu, penggunaan perlengkapan seperti sepatu dan grip raket juga harus sesuai. Pegangan raket yang terlalu keras atau terlalu longgar bisa memicu cedera,” jelasnya.
Salah satu terapi yang efektif untuk mengatasi nyeri akibat olahraga padel adalah akupunktur medis. Dr. Mia menjelaskan, akupunktur dilakukan dengan menusukkan jarum halus ke titik-titik tertentu pada tubuh untuk merangsang saraf.
“Akupunktur bekerja dengan memicu pelepasan zat antinyeri, memblok sinyal nyeri, serta meningkatkan aliran darah ke area yang cedera. Aliran darah yang baik membantu proses pemulihan jaringan,” paparnya.
Akupuntur tidak hanya mengurangi nyeri, tetapi juga membantu mempercepat penyembuhan dan merelaksasi otot. Cedera yang sering ditangani dengan akupuntur pada pemain padel antara lain tennis elbow, nyeri bahu, punggung, lutut, serta ketegangan otot akibat overuse.
Frekuensi terapi akupunktur disesuaikan dengan tingkat keparahan cedera. Untuk nyeri ringan hingga sedang, biasanya dibutuhkan 2–3 kali terapi per minggu. “Setiap kasus berbeda. Ada yang cepat membaik, ada juga yang perlu terapi lebih rutin, terutama jika punya riwayat cedera sebelumnya,” ujar dr. Mia.
Akupunktur medis tidak hanya dikenal sebagai terapi, tetapi kini semakin banyak dimanfaatkan sebagai pendamping penanganan cedera olahraga, termasuk cedera yang sering dialami pemain padel dan atlet lainnya. Meski demikian, akupuntur tetap memiliki batasan dan harus dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten.
dr. Mia menjelaskan, cedera olahraga memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda. Untuk cedera ringan seperti peradangan, bengkak, atau robekan halus pada otot dan jaringan lunak, akupunktur dapat membantu proses pemulihan.
“Kalau masih cedera ringan atau robekan sebagian (partial rupture), akupunktur bisa menjadi terapi pendamping. Kami juga memiliki laserpunktur untuk merangsang pemulihan jaringan dan otot,” ujarnya.
Namun, untuk cedera berat seperti robek total atau putus ligamen, misalnya pada cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL), penanganan utama tetap harus dilakukan oleh dokter ortopedi.
“Kalau ligamen sudah putus, itu tidak mungkin disambung dengan terapi apa pun. Harus operasi. Akupunktur hanya bisa mendampingi proses pemulihan setelahnya,” tegas dr. Mia.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan nyeri ringan. Cedera yang awalnya ringan bisa menjadi berat jika terus dipaksakan tanpa penanganan yang tepat.
Banyak orang masih takut menjalani akupunktur karena identik dengan jarum. Padahal, dr. Mia menegaskan bahwa jarum akupunktur sangat halus dan relatif tidak menimbulkan rasa sakit.
“Jarumnya sangat kecil, sekitar sepersepuluh jarum pentul, bahkan sedikit lebih tebal dari rambut. Jadi sebenarnya tidak sakit,” jelasnya.
Bagi pasien yang memiliki fobia jarum, tersedia alternatif lain seperti laserpunktur, sonopuntur (menggunakan gelombang ultrasound), hingga farmakopunktur yang menggunakan cairan tertentu pada titik akupunktur.
“Media akupunktur itu banyak, tidak selalu harus pakai jarum. Titiknya tetap sama, hanya medianya yang berbeda,” tambahnya.

Akupunktur medis dapat dilakukan pada semua kelompok usia, mulai dari bayi baru lahir hingga lanjut usia. Terapi ini juga aman untuk atlet dan orang yang aktif berolahraga.
Bahkan, dr. Mia menyebut akupunktur dapat membantu meningkatkan performa atlet secara alami.
“Kami pernah menangani atlet lari. Akupunktur bisa meningkatkan stamina dan kapasitas tubuh. Ini seperti ‘doping alami’, tapi aman dan tidak melanggar aturan,” katanya.
Akupunktur bisa dilakukan sebelum olahraga untuk meningkatkan performa atau setelah olahraga untuk mengatasi nyeri dan kelelahan otot. Terapi ini juga dapat dilakukan secara rutin meski tidak ada keluhan, sebagai bagian dari perawatan kebugaran tubuh.
Meski tergolong aman, akupunktur tetap memiliki risiko jika dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kompetensi medis.
“Risiko bisa terjadi kalau dilakukan oleh orang yang tidak terlatih, seperti jarum patah, syok, atau menusuk area yang tidak seharusnya,” ujar dr. Mia.
Ia mencontohkan, daerah tertentu seperti ubun-ubun bayi tidak boleh ditusuk, dan area dada memerlukan teknik khusus agar tidak mencederai organ vital.
“Akupunktur medis dipelajari bertahun-tahun. Ada teknik, ukuran jarum, dan kedalaman tusukan yang harus tepat. Jangan sembarangan memilih terapis,” tegasnya.
Dalam penanganan cedera olahraga, akupunktur dapat dikombinasikan dengan fisioterapi. Menurut dr. Mia, fisioterapi memiliki program yang jelas dan terukur sesuai jenis cedera.
“Akupunktur dan fisioterapi bisa berjalan bersamaan. Tapi kalau gym, itu perlu dikonsultasikan dulu, apakah aman dan sesuai dengan kondisi cedera pasien,” jelasnya.
Tips Mencegah Cedera Saat Bermain Padel
Menutup perbincangan, dr. Mia membagikan sejumlah tips agar pemain padel terhindar dari cedera, antara lain:
Melakukan pemanasan 10–15 menit sebelum bermain
Mengawali permainan secara bertahap, tidak langsung memaksakan tenaga
Menggunakan sepatu dan perlengkapan yang sesuai
Memperhatikan teknik ayunan dan gerakan tubuh
Melakukan pendinginan dan peregangan setelah bermain
Cukup istirahat dan tidak memaksakan tubuh saat nyeri muncul
“Akupunktur bisa membantu pemulihan cedera saat olahraga, tapi pencegahan tetap yang utama. Jangan meremehkan nyeri kecil, dan selalu konsultasikan ke dokter,” ujarnya.
Dr. Mia mengingatkan, olahraga pada dasarnya bertujuan menyehatkan tubuh. Karena itu, penting untuk memahami batas kemampuan diri, melakukan pemanasan, mempelajari teknik dasar, dan segera mencari penanganan bila muncul nyeri yang tidak wajar.
“Padel boleh seru, tapi jangan sampai keseruan itu berujung cedera karena kurang persiapan,” tutupnya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY