Buka konten ini

BENGKONG dan Batuampar saat ini seolah bukan bagian dari Kota Metropolitan Batam. Sebab, ditengah masifnya pembangunan sejumlah infrastruktur jalan di berbagai Kecamatan di Batam, ternyata kondisinya berbanding terbalik dengan kondisi infrastruktur pemenuhan kebutuhan akan air bersih. Kondisi terbaru ini, gangguan pasokan air bersih kembali dikeluhkan warga Kecamatan Bengkong, Kota Batam. Sudah lebih dari sepekan, suplai air bersih dari PT Air Batam Hilir (ABH) tidak mengalir di sejumlah kawasan, memaksa warga bertahan menggunakan air galon hingga mengandalkan distribusi darurat dari mobil tangki meski harus berebut terlebih dahulu untuk mendapatkan seember air bersih.

Wilayah terdampak meliputi Bengkong Harapan, Bengkong Permai, Bengkong Mahkota, hingga Bengkong Kodim. Kondisi tersebut mengganggu aktivitas harian warga, terutama untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan sanitasi.
Rendy, warga Bengkong, mengaku hampir dua pekan air tidak mengalir ke rumahnya. Meski bantuan mobil tangki sempat datang, jumlahnya terbatas dan harus diperebutkan oleh warga.
“Sudah hampir dua minggu air tidak mengalir. Kalau mobil tangki datang, warga berebut. Banyak juga yang tidak kebagian. Terpaksa mandi pakai air galon,” ujar Rendy kepada Batam Pos, Kamis (14/1).
Ia berharap pasokan air segera normal agar warga tidak terus bergantung pada air tangki dan galon yang dinilai tidak mencukupi kebutuhan harian.
BP Batam Siapkan Solusi, ABH Janjikan Perbaikan
Menanggapi keluhan tersebut, Humas PT Air Batam Hilir (ABH) Ginda Alamsyah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan distribusi air di wilayah Bengkong dan sekitarnya.
“Kami memahami ketidaknyamanan yang dialami masyarakat dan kondisi ini menjadi perhatian serius kami,” kata Ginda.
Ia menjelaskan, ABH bersama PT Air Batam Hulu (ABHu) tengah mengupayakan langkah-langkah teknis agar suplai air kembali normal, terutama ke wilayah Bengkong yang masuk kategori daerah bertekanan rendah.
“Kami berupaya memaksimalkan produksi di WTP Duriangkang agar suplai air ke Bengkong dan sekitarnya bisa segera pulih,” ujarnya.
Ginda menegaskan, secara umum Batam tidak mengalami kekurangan sumber air baku. Saat ini terdapat sembilan waduk, dengan tujuh di antaranya aktif beroperasi dan menghasilkan sekitar 4.200 liter per detik. Namun, persoalan utama terletak pada sistem distribusi dan infrastruktur pendukung.
Menurut dia, pembangunan sistem air minum tidak hanya bergantung pada kapasitas waduk, tetapi juga membutuhkan penguatan jaringan distribusi yang memerlukan investasi besar dan perencanaan bertahap.
Sebagai operator operasi dan pemeliharaan, PT ABH dan ABHu bertugas menjaga sistem jaringan air minum tetap berfungsi optimal, sekaligus meningkatkan kapasitas suplai ke wilayah yang masih mengalami gangguan. Dalam pelaksanaannya, perusahaan terus berkoordinasi dengan BP Batam melalui Badan Usaha SPAM Batam selaku pemilik aset.
Ginda mengungkapkan, Bengkong masih memiliki sejumlah wilayah yang masuk kategori stress area atau daerah dengan tekanan air rendah. Kondisi ini bukan persoalan baru.
“Dari 32 titik stress area sebelumnya, kini masih tersisa 18 titik yang belum terselesaikan. Dalam tiga tahun terakhir, lima titik sudah berhasil ditangani, sisanya masih menunggu realisasi anggaran,” jelasnya.
Gangguan suplai air belakangan ini juga dipengaruhi oleh penurunan produksi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Duriangkang 1 dan 2, serta meningkatnya konsumsi air masyarakat selama periode libur Natal dan Tahun Baru.
Di sisi lain, ABH juga tengah melakukan sejumlah pekerjaan perbaikan jaringan. Sebagai langkah darurat, perusahaan menyiapkan layanan distribusi air melalui mobil tangki. Warga dapat mengajukan permintaan melalui perangkat setempat atau saluran resmi ABH.
Untuk solusi jangka panjang, BP Batam melalui BU SPAM Batam saat ini mengerjakan pembangunan pipa tambahan dari waduk menuju Tangki Ozon, yang menjadi pusat distribusi utama wilayah Bengkong dan sekitarnya. Tangki Ozon memiliki kapasitas total 12.000 meter kubik.
“Jika sistem ini sudah berfungsi optimal, suplai air ke Bengkong dan sekitarnya diharapkan lebih stabil,” kata Ginda.
Sementara itu, BP Batam melalui BU SPAM, Fasilitas, dan Lingkungan menggelar pertemuan silaturahmi sekaligus meninjau langsung kondisi distribusi air bersih di Bengkong Harapan II, Selasa (13/1). Pertemuan berlangsung di kediaman Ketua RW VII Bengkong Harapan II.
Kegiatan tersebut dihadiri Direktur BU SPAM, Fasilitas dan Lingkungan BP Batam Iyus Rusmana, Direktur Operasional ABH Jefri Maulidani, perangkat RW dan RT, serta tokoh masyarakat setempat.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait mengatakan, pihaknya bersama ABH tengah memperkuat jaringan interkoneksi sebagai solusi jangka pendek.
“Untuk jangka panjang, kami akan membangun interkoneksi dari Tangki Ozon Bukit Senyum ke sejumlah wilayah, termasuk Bengkong. Kami berharap upaya ini dapat menjadi solusi persoalan air di Bengkong Harapan II,” ujarnya.
Ketua RW VII Bengkong Harapan II, Sularto, mengapresiasi langkah BP Batam dan ABH yang turun langsung ke lapangan dan mendengar keluhan warga.
“Kami sangat berharap air segera kembali mengalir normal,” ujarnya.
Harapan serupa disampaikan para ketua RT dan tokoh masyarakat. Warga menantikan tindak lanjut konkret agar distribusi air bersih kembali stabil.
“Semoga kedatangan jajaran BP Batam dapat meredakan kekhawatiran warga terkait pasokan air bersih,” katanya. (***)
Reporter : M. SYA’BAN – ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO