Buka konten ini

NEW YORK (BP) – Tekanan politik dari Gedung Putih kembali mengguncang pasar keuangan global. Konflik terbuka antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell membuat pasar saham bergerak volatil, dolar AS melemah, sementara harga emas melesat ke rekor tertinggi pada perdagangan, Senin (12/1).
Kontrak berjangka indeks S&P 500 tertekan 0,5 persen. Di saat bersamaan, investor berbondong-bondong mencari aset aman. Harga emas melonjak tajam dan kembali mencetak rekor, menandai meningkatnya kecemasan pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter AS.
Di pasar valuta asing, dolar AS menjadi sasaran tekanan. Franc Swiss menguat 0,4 persen ke level 0,7979 per dolar AS, sedangkan euro naik 0,17 persen ke USD 1,1656. Indeks dolar turun 0,3 persen dan berada di jalur pelemahan harian terdalam sejak pertengahan Desember.
“Konflik terbuka antara The Fed dan pemerintah AS jelas bukan sentimen positif bagi USD,” kata Head of Currency Strategy National Australia Bank, Ray Attrill.
Harga emas melonjak menembus USD 4.600 per ons troi, didorong kombinasi konflik geopolitik dan ketidakpastian global. Gejolak di Iran turut menopang harga logam mulia, sekaligus menahan penurunan harga minyak.
Independensi Bank Sentral
Ketegangan memuncak setelah Jerome Powell pada Minggu (11/1) mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump mengancamnya dengan dakwaan pidana dan memanggilnya melalui dewan juri terkait kesaksiannya di Kongres tahun lalu mengenai proyek renovasi gedung The Fed. Powell menilai langkah tersebut sebagai upaya menekan bank sentral agar memangkas suku bunga.
“Trump sedang menarik benang-benang rapuh independensi bank sentral,” ujar Andrew Lilley, Chief Rates Strategist Barrenjoey, bank investasi berbasis di Sydney. Meski demikian, Lilley menilai tekanan politik tersebut tidak akan mengubah arah kebijakan moneter.
“Keputusan suku bunga tetap ditentukan oleh mayoritas anggota FOMC,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI