Buka konten ini

WARGA Perumahan Tiban Ayu, Sekupang, kembali mengeluhkan kualitas air bersih yang keruh dan berwarna kecokelatan. Kondisi tersebut dirasakan sejumlah warga Blok J6, tepatnya di rumah nomor 10 di samping Posyandu Tulip 9, meski sebelumnya pihak Air Batam Hilir (ABH) telah melakukan perbaikan.
Salah seorang warga terdampak, Lolla, mengatakan perbaikan yang dilakukan ABH pada pekan lalu hanya memberikan dampak sementara. Air sempat mengalir lebih jernih selama satu hari, namun setelah itu kembali keruh dan tidak layak digunakan.
“Setelah diperbaiki pekan lalu, airnya sempat bersih meski tidak sejernih di perumahan lain. Tapi hanya sehari, setelah itu airnya kembali kotor dan berwarna cokelat,” ujar Lolla kepada Batam Pos, Senin (12/1) sore.
Ia mengaku sudah kembali melaporkan kondisi tersebut kepada pihak ABH. Namun, respons yang diterima sejauh ini dinilai belum memberikan solusi konkret.
“Kami sudah lapor lagi, tapi hanya disampaikan permintaan maaf. Belum ada tindakan lanjutan yang jelas,” katanya.
Lolla mengungkapkan kekhawatirannya terhadap warga yang tidak menggunakan air galon untuk kebutuhan sehari-hari. Pasalnya, air yang mengalir tidak hanya keruh, tetapi juga berwarna kuning kecokelatan dan bercampur endapan tanah.
“Airnya keruh, warnanya kuning. Kasihan warga yang tidak pakai air galon,” tuturnya.
Kondisi tersebut juga menyulitkan pemenuhan kebutuhan sanitasi rumah tangga, terutama bagi perempuan dan anak-anak.
“Saya punya anak perempuan. Air seperti ini dipakai ke toilet saja sudah susah, apalagi untuk bersih-bersih,” keluhnya.
Tak hanya di rumahnya, Lolla menyebut sejumlah rumah di bagian belakang perumahan juga mengalami kondisi serupa.
“Rumah-rumah di belakang juga parah, airnya sama-sama keruh,” ujarnya.
Ia menambahkan, hampir setiap hari harus menguras bak penampungan air. Bahkan, warga pernah menemukan cacing di dalam bak, air berbau, serta menimbulkan rasa gatal saat digunakan.
“Kalau sudah dibilas pakai air galon baru tidak gatal. Tapi tidak mungkin terus-terusan pakai air galon,” katanya.
Menurut Lolla, kondisi air keruh ini dirasakan warga secara intens selama sepekan terakhir. Namun, jika ditarik sejak laporan awal, persoalan air keruh dan gatal-gatal di kawasan Tiban Ayu disebut sudah berlangsung sekitar tiga bulan.
Menanggapi keluhan tersebut, Humas Air Batam Hilir, Ginda Alamsyah, membenarkan adanya gangguan teknis yang memengaruhi kualitas air yang diterima pelanggan. Ia menyebut persoalan bersumber dari instalasi utama di bagian hulu.
“Ada kendala teknis di instalasi utama yang memang membutuhkan perbaikan berskala besar,” ujar Ginda.
Ia menjelaskan, pada perbaikan sebelumnya, persoalan utama dipicu oleh kotoran yang mengendap di dalam jaringan distribusi pelanggan.
“Saat dilakukan penekanan dan peningkatan tekanan pada jaringan, endapan tersebut ikut terbawa aliran air hingga ke pelanggan,” jelasnya.
Secara umum, penurunan kualitas air, lanjut Ginda, disebabkan oleh perubahan tekanan di dalam jaringan distribusi. Salah satunya akibat perubahan kebutuhan atau demand pemakaian air oleh pelanggan.
“Kondisi ini menyebabkan endapan yang sebelumnya mengendap di dalam pipa terbawa aliran air dan memengaruhi kualitas air yang diterima pelanggan,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, pihak ABH akan segera melakukan penanganan dengan pembersihan jaringan distribusi di wilayah terdampak.
“Salah satunya melalui kegiatan flushing jaringan perpipaan agar kualitas air yang diterima pelanggan dapat kembali normal,” ujarnya melalui keterangan tertulis. (***)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO