Buka konten ini

Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
PELANTIKAN Prof Arif Satria sebagai kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan harapan baru bagi penguatan ekosistem riset dan inovasi Indonesia. Dengan menakhodai BRIN, beliau memegang peran strategis untuk mengonsolidasikan sumber daya riset nasional dan mengarahkan inovasi Indonesia menuju lompatan kemajuan.
Pengalaman panjang Prof Arif sebagai akademisi sekaligus mantan rektor IPB yang berkecimpung dalam pengembangan riset dan inovasi memperkuat optimisme bahwa kepemimpinannya akan membawa pembaruan yang terukur dan berdampak.
Dalam pemaparan pada forum diskusi yang bertajuk Riset dan Inovasi Sumber Kemajuan Bangsa, beliau menekankan tiga agenda strategis. Yaitu, perlunya kolaborasi nasional yang lebih terpadu, penguatan intermediasi inovasi, serta keberanian memasuki frontier science yang selama ini belum tergarap optimal.
Gagasan tersebut tampak sederhana, tetapi memiliki kekuatan strategis, yakni riset dan inovasi sebagai sumber kemajuan bangsa. Di tengah dinamika global dan tantangan pembangunan berkelanjutan, penegasan itu menjadi sangat relevan. Indonesia memerlukan lompatan pengetahuan yang dirancang dengan visi jangka panjang dan dijalankan secara konsisten.
Forum diskusi makin kaya perspektif dengan kehadiran para penanggap dari berbagai perguruan tinggi besar. Di antaranya, Prof M. Dimyati (Dirjen Riset Kemristekdikti 2014–2019), Prof Jamaluddin Jompa (rektor Unhas), Prof Hamdi Muluk (wakil rektor UI), Prof Widodo (rektor UB), dan saya sendiri dari ITS.
Keragaman pandangan itu menunjukkan besarnya harapan komunitas akademik terhadap arah baru BRIN. Sebagai salah satu penanggap, saya memandang perlunya menghadirkan elaborasi yang lebih komprehensif agar gagasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana, tetapi tumbuh sebagai agenda kolektif bangsa.
Tiga Pilar
Riset dan inovasi sejak lama menjadi tolok ukur kemajuan bangsa. Kekayaan alam tidak akan bermakna tanpa kemampuan bangsa mengolahnya melalui ilmu pengetahuan. Lantaran itu, penguatan ekosistem riset dan inovasi harus bertumpu pada tiga pilar utama. Yaitu, pertama, insan akademis yang memiliki tradisi berpikir ilmiah dan berkomitmen mengembangkan ilmu pengetahuan. Kedua, insan pencipta yang melahirkan gagasan dan daya cipta melalui riset dan inovasi. Ketiga, insan pengabdi yang memastikan hasil riset dan inovasi benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Tiga pilar itu membentuk rantai nilai yang saling menopang, menciptakan ekosistem ilmu pengetahuan yang tangguh, berdampak, dan mendunia. Vannevar Bush melalui laporan monumentalnya, Science, The Endless Frontier (1945), menegaskan, scientific progress results from the free play of free intellects. Pesan tersebut mengingatkan bahwa kemajuan sains hanya tumbuh ketika pikiran-pikiran terbaik diberi ruang untuk berkembang dan berinteraksi secara bebas.
Untuk menumbuhkan ketiga peran strategis tersebut, dibutuhkan kebijakan yang menjamin kebebasan akademik, dukungan fasilitas riset yang memadai, serta mekanisme kolaborasi yang terstruktur dan berkelanjutan. Ilmu pengetahuan tak akan lahir dari ruang hampa. Ilmu pengetahuan tumbuh dan berkembang ketika ekosistem memberikan kesempatan bagi gagasan untuk bertemu, bereksperimen, dan bertransformasi menjadi solusi nyata.
Riset dan inovasi bukanlah kerja individu, melainkan upaya kolektif yang membutuhkan ruang, dukungan, serta jejaring insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang saling melengkapi serta terus diperkukuh. Hal itu sejalan dengan arah kebijakan riset dan inovasi untuk penguatan kapasitas SDM iptek dan tata kelola infrastruktur riset guna mendorong produktivitas riset, akselerasi inovasi, serta peningkatan kolaborasi multipihak dalam ekosistem iptek dan inovasi.
Sebagai Panglima
Indonesia memiliki peluang besar keluar dari jebakan kelas menengah (middle income trap). Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada kemampuan bangsa dalam meningkatkan produktivitas nasional. Berbagai kajian internasional menegaskan bahwa produktivitas tidak mungkin tumbuh tanpa riset dan inovasi yang kuat. Pada titik inilah riset dan inovasi harus ditempatkan sebagai panglima pembangunan, bukan sekadar pelengkap dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional.
Hingga kini, belanja riset dan inovasi nasional Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara yang memimpin riset dan inovasi global. Menjadikan riset dan inovasi sebagai panglima bukanlah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan strategis untuk keluar dari jebakan kelas menengah. Investasi pada riset dan inovasi memang tidak selalu memberikan hasil instan, tetapi multiplier effect-nya menjadi sumber kemajuan bangsa.
Dalam Perspektif
Endogenous Growth Theory yang diperkenalkan Paul Romer, peraih Nobel Ekonomi 2018, mengungkapkan, kemajuan ekonomi jangka panjang tidak ditentukan oleh akumulasi modal atau kekayaan alam, tetapi oleh kemampuan menghasilkan riset, inovasi, dan teknologi secara berkelanjutan. Kreativitas manusia, aktivitas R&D, serta kebijakan inovatif menjadi penentu utama pertumbuhan ekonomi modern.
Di sinilah, konsolidasi kekuatan riset dan inovasi nasional oleh BRIN sangat strategis untuk mengatasi fragmentasi yang selama ini menghambat integrasi riset dan inovasi lintas lembaga. Kepemimpinan baru BRIN perlu memperkuat jejaring antara perguruan tinggi, industri, kementerian, pemerintah daerah, hingga diaspora ilmiah agar riset dan inovasi tak lagi berjalan parsial, tetapi menjadi gerakan nasional yang terorkestrasi.
Seruan menjadikan riset dan inovasi sebagai panglima tak boleh berhenti sebagai slogan saja. Seruan tersebut menuntut keberanian politik, keberpihakan anggaran, dan tata kelola yang menjamin kebebasan akademik. Negara-negara yang kini memimpin riset dan inovasi global tidak melompat maju melalui langkah-langkah kecil yang sporadis, tetapi melalui investasi besar yang konsisten dan visioner.
Indonesia memiliki modal besar dengan bonus demografi, kekayaan alam, dan perguruan tinggi yang berkembang pesat. Namun, tanpa komitmen meningkatkan belanja riset dan inovasi secara signifikan, kita akan kesulitan melakukan transformasi menuju innovation-driven economy dan berisiko tetap menjadi pengikut teknologi, bukan pencipta peradaban teknologi.
Jembatan Kesenjangan
Salah satu tantangan besar ekosistem riset dan inovasi adalah valley of death, yakni kesenjangan antara penemuan ilmiah dan penerapannya di industri. Banyak hasil riset dan inovasi yang secara akademik kuat, tetapi gagal melangkah ke tahap hilirisasi karena kurangnya pendanaan lanjutan, terbatasnya mitra industri, serta lemahnya lembaga intermediasi.
Untuk menjembatani kesenjangan itu, bridging ecosystem harus diperkuat. Kawasan sains dan teknologi (KST), pusat kolaborasi riset, serta innovation hub perlu berfungsi sebagai jembatan antara laboratorium dan dunia usaha melalui validasi teknologi, inkubasi bisnis, dan akselerasi komersialisasi. Tanpa peran infrastruktur kelembagaan tersebut, riset dan inovasi berisiko kehilangan relevansinya sehingga cahayanya hanya terang di jurnal, tetapi redup di kehidupan masyarakat. (*)