Buka konten ini

SEKUPANG (BP) – Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam sepanjang 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, namun pola kenaikan musiman yang berulang setiap pertengahan hingga akhir tahun menunjukkan ancaman DBD masih perlu diantisipasi secara serius.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat total 809 kasus DBD sepanjang 2025. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 871 kasus pada 2024. Penurunan itu juga tercermin pada angka incidence rate (IR) yang turun dari 68,21 per 100 ribu penduduk pada 2024 menjadi 60,28 per 100 ribu penduduk pada 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menyebut tren penurunan tersebut merupakan hasil kombinasi intervensi pemerintah dan meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan.
“Secara kumulatif, kasus DBD di Batam pada 2025 menurun dibandingkan 2024. Ini menunjukkan bahwa pemberantasan sarang nyamuk, fogging fokus, serta edukasi kepada masyarakat mulai memberikan dampak positif,” ujar Didi, Jumat (9/1).
Meski demikian, analisis distribusi bulanan menunjukkan pola kenaikan yang masih berulang, terutama pada pertengahan hingga akhir tahun. Pada 2024, lonjakan kasus mulai terjadi sejak Juli dan terus meningkat hingga akhir tahun.
Rinciannya, Juli tercatat 126 kasus, Agustus 112 kasus, September 76 kasus, Oktober 96 kasus, November 125 kasus, dan Desember mencapai 149 kasus—tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Pola serupa juga terlihat pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2022, misalnya, kasus DBD mencapai 98 kasus pada Juli dan 89 kasus pada Agustus. Sementara pada 2019, jumlah kasus pada Juli tercatat sebanyak 91 kasus.
Berdasarkan grafik historis DBD periode 2018–2024, hampir seluruh tahun menunjukkan tren peningkatan kembali pada rentang Juli hingga November. Menurut Didi, kondisi ini berkaitan erat dengan faktor cuaca dan lingkungan.
“Lonjakan biasanya terjadi saat musim hujan dan masa peralihan cuaca. Meskipun secara total kasus menurun, pola musiman ini tetap harus diantisipasi karena peningkatan bisa terjadi kapan saja,” katanya.
Jika ditarik dalam rentang enam tahun terakhir, kasus DBD di Batam menunjukkan pola siklikal. Pada 2018 tercatat 639 kasus (IR 50), 2019 sebanyak 728 kasus (IR 52,82), 2020 sebanyak 763 kasus (IR 53,66), 2021 sebanyak 710 kasus (IR 59,36), 2022 melonjak menjadi 902 kasus (IR 56,12), turun pada 2023 menjadi 392 kasus (IR 23,43), lalu kembali meningkat pada 2024 dengan 871 kasus (IR 68,21).
Menurut Didi, pola naik-turun tersebut menegaskan bahwa pengendalian DBD tidak bisa bergantung pada keberhasilan satu tahun saja.
“DBD bukan penyakit yang dapat dikendalikan dalam satu tahun. Ketika kewaspadaan menurun, kasus bisa kembali meningkat. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan,” ujarnya.
Di tengah penurunan jumlah kasus, angka kematian akibat DBD pada 2024 justru tercatat sebagai yang tertinggi dalam enam tahun terakhir, yakni sebanyak 14 kasus. Kondisi ini, kata Didi, menjadi peringatan penting bagi semua pihak.
“Tingginya angka fatalitas menunjukkan bahwa deteksi dini dan penanganan cepat sangat menentukan keselamatan pasien. Setiap kematian akibat DBD adalah alarm bagi kita semua,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan langkah 3M Plus, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi mendadak, nyeri otot, atau gejala lain yang mengarah pada DBD.
“Keberhasilan pengendalian DBD tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Peran aktif masyarakat, terutama dalam menjaga lingkungan rumah masing-masing, sangat menentukan,” pungkasnya. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO