Buka konten ini

Merasa masih muda, sibuk bekerja, dan jarang sakit sering kali membuat banyak orang menganggap dirinya sehat. Padahal, tanpa disadari, pola hidup tidak sehat justru dapat membuka jalan menuju diabetes sejak usia produktif.

DIABETES tidak muncul secara tiba-tiba. Ada fase awal yang sering luput dari perhatian, yakni prediabetes.
Hal ini disampaikan dr. Vahry Yudanda, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Awal Bros Batam, dalam siaran langsung Instagram HalloAwalBros bertema “Usia Produktif, Tapi Diam-Diam Menuju Diabetes”.
“Di antara kondisi gula darah normal dan diabetes, ada satu jembatan yang disebut prediabetes. Kadar gula darah sudah lebih tinggi dari normal, tetapi belum masuk kriteria diabetes,” jelasnya.
Prediabetes kerap disebut sebagai silent disease karena umumnya tidak menimbulkan keluhan. Banyak orang baru menyadari ketika sudah mengalami diabetes atau bahkan komplikasi.
“Keluhannya hampir tidak ada. Paling tanda ringan seperti bagian leher belakang yang menghitam, yang menandakan resistensi insulin,” ujarnya.
Gejala klasik seperti sering haus, mudah lapar, cepat mengantuk, dan sering buang air kecil biasanya baru muncul ketika sudah masuk fase diabetes.
Masih banyak anggapan bahwa diabetes adalah penyakit orang tua. Padahal, dr. Vahry menegaskan bahwa usia produktif juga berisiko.
Berdasarkan data, prevalensi diabetes di usia 15–45 tahun di Indonesia sudah mencapai sekitar 1,6 persen, dan meningkat tajam setelah usia 55 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses menuju diabetes sering kali sudah dimulai sejak usia muda.
“Diabetes itu proses panjang. Banyak yang baru terdeteksi di usia dewasa, padahal prediabetesnya sudah berjalan sejak remaja atau dewasa muda,” jelasnya.
Anggapan bahwa hanya orang gemuk yang berisiko diabetes juga tidak sepenuhnya benar. Menurut dr. Vahry, obesitas memang faktor risiko utama, tetapi bukan satu-satunya.
“Orang kurus pun bisa terkena diabetes. Apalagi jika ada faktor genetik, lingkar perut berlebih, kurang aktivitas fisik, sering begadang, stres, atau pola makan tinggi gula dan kalori,” katanya.
Ia menekankan pentingnya memperhatikan lingkar perut, bukan hanya berat badan.

Begadang dan Stres Picu Gula Darah Naik
Kebiasaan begadang, terutama pada pekerja dan mahasiswa, baik karena pekerjaan, belajar, maupun sekadar bermain media sosial, turut meningkatkan risiko prediabetes. Kurang tidur dapat memicu gangguan hormon seperti kortisol dan hormon lapar, yang pada akhirnya meningkatkan gula darah.
“Begadang bikin gampang lapar, ingin makanan tinggi kalori, dan itu berulang. Lama-lama tubuh kelelahan, pankreas juga ikut lelah, akhirnya masuk fase prediabetes,” jelasnya.
Jika begadang terus-menerus, tubuh lama-kelamaan tidak mampu beradaptasi. “Akibatnya, gula darah bisa naik dan risiko diabetes meningkat,” kata dr. Vahry.
Dalam jangka panjang, pola tidur yang buruk dapat mempercepat terjadinya prediabetes hingga diabetes, terutama bila disertai pola makan tidak sehat dan kurang olahraga.
Tidak ada batasan usia khusus untuk mulai memeriksakan gula darah. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan ketika seseorang memiliki faktor risiko, seperti riwayat keluarga diabetes, perubahan lingkar perut, atau pola hidup tidak sehat.
“Lebih baik tahu kondisi sejak awal. Kalau sudah tahu baseline-nya, kita bisa mencegah sebelum terlambat,” ujar dr. Vahry.
Kabar baiknya, prediabetes masih bisa dikendalikan bahkan dikembalikan ke kondisi normal. Kuncinya ada pada perubahan gaya hidup dengan target yang realistis.
“Tidak perlu ekstrem, seperti langsung berhenti makan karbohidrat. Yang penting porsinya diatur dan pilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau gandum,” katanya.
Ia menyarankan pembagian porsi makan seimbang, memperbanyak sayur, protein tanpa lemak, serta rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu.
Bagi perempuan dengan riwayat diabetes melitus gestasional, risiko mengalami prediabetes dan diabetes di kemudian hari lebih tinggi. Pemeriksaan HbA1c secara berkala setiap tiga bulan sangat dianjurkan, disertai pengaturan pola makan, olahraga, dan terapi sesuai anjuran dokter.
Dr. Vahry mengingatkan bahwa mengenali risiko sejak usia produktif adalah langkah penting untuk mencegah diabetes.
“Kalau faktor genetik tidak bisa diubah, maka faktor lain harus dikendalikan seketat mungkin. Jangan menunggu sakit dulu baru berubah,” ujarnya.
Waspada Diabetes Sejak Dini
Puasa atau fasting kerap dianggap sebagai cara cepat menjaga berat badan dan mengontrol gula darah. Namun, menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr Vahry Yudanda Sp.Pd, puasa bukan satu-satunya kunci utama. Yang jauh lebih penting adalah keseimbangan antara asupan kalori yang masuk dan energi yang dikeluarkan melalui aktivitas fisik.
“Banyak pasien diabetes yang sebenarnya sudah diberi saran medis, tetapi kesulitan menerapkannya di rumah. Karena itu, fokusnya bukan hanya puasa, melainkan berapa kalori yang dikonsumsi dan berapa yang dibakar lewat olahraga,” jelas dr. Vahry.
Prinsip dasarnya sederhana, yakni menjaga keseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi. Pola ini dinilai lebih realistis dan berkelanjutan dibandingkan diet ekstrem yang justru sulit dijalankan dalam jangka panjang.
dr. Vahry menegaskan bahwa istilah “batas atas normal” tetap perlu diwaspadai. Untuk memastikannya, jenis pemeriksaan gula darah harus diketahui terlebih dahulu, apakah gula darah sewaktu, gula darah puasa, atau tes toleransi glukosa oral.
“Kalau hasil pemeriksaan sudah melewati batas normal, sebaiknya segera ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan,” ujarnya.
Pemeriksaan yang dianjurkan meliputi gula darah puasa, gula darah dua jam setelah makan, serta HbA1c. Dari hasil tersebut, dokter dapat memastikan apakah seseorang masih dalam kondisi normal, prediabetes, atau sudah diabetes.
Terapi Injeksi GLP-1 untuk Diabetes dan Obesitas
Saat ini, terdapat terapi injeksi yang diberikan sekali seminggu atau sekali sehari, yang dikenal sebagai terapi GLP-1. Terapi ini awalnya ditujukan untuk diabetes, namun kini juga digunakan pada pasien obesitas untuk membantu menurunkan berat badan.
“GLP-1 bekerja dengan menunda pengosongan lambung, meningkatkan sekresi insulin, dan menurunkan hormon glukagon. Efeknya bisa menurunkan berat badan sekaligus kadar HbA1c,” jelas dr. Vahry.
Namun, terapi ini tidak boleh digunakan sembarangan. Pasien dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas 25, usia di bawah 60 tahun, HbA1c di atas 6 persen, memiliki riwayat keluarga diabetes, serta sudah mencoba diet dan olahraga ketat namun belum berhasil, baru dapat dipertimbangkan menjalani terapi ini.
“Harus tetap melalui konsultasi dokter penyakit dalam. Jangan asal mengikuti tren atau ke klinik pelangsingan tanpa pengawasan medis,” tegasnya.
Untuk mencegah diabetes sejak dini, dr. Fahry mengajak masyarakat melakukan penilaian diri secara sederhana. Mulai dari mengukur berat badan, tinggi badan, hingga lingkar pinggang.
“Obesitas sentral perlu diwaspadai. Lingkar perut perempuan di atas 80 sentimeter dan laki-laki di atas 90 sentimeter sudah berisiko,” jelasnya.
Selain itu, faktor gaya hidup seperti pola makan, kebiasaan begadang, stres kerja, dan kurang aktivitas fisik juga sangat memengaruhi kenaikan gula darah. Bahkan, seseorang yang tampak bugar dan rajin berolahraga belum tentu benar-benar sehat jika tidak pernah melakukan pemeriksaan.
“Sehat itu tidak hanya merasa kuat, tapi juga harus dibuktikan dengan pemeriksaan medis,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya skrining sejak dini untuk mengetahui kondisi dasar tubuh. Jika prediabetes terdeteksi pada usia muda, peluang untuk mengembalikan gula darah ke kondisi normal masih sangat besar.
“Selama belum terlambat, gula darah masih bisa dikendalikan. Kuncinya adalah sadar sejak dini dan rutin berkonsultasi dengan dokter,” pungkas dr. Vahry. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY