Buka konten ini

STOK beras premium di Perum Bulog Kantor Cabang Batam terbilang melimpah. Namun, hingga kini serapan distributor justru rendah. Kondisi tersebut menjadi sorotan Komisi II DPRD Kepulauan Riau saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Gudang Bulog Batam, Jumat (9/1).
Anggota Komisi II DPRD Kepri, Wahyu Wahyudin mengatakan, Bulog Batam saat ini masih memiliki stok beras premium sekitar 24 ton. Selain itu, Bulog juga menyiapkan cadangan sekitar 4.000 ton di Sulawesi yang siap dikirim ke Batam.
“Stoknya sebenarnya aman dan bahkan melimpah. Masalahnya justru di sisi serapan. Sampai sekarang belum ada distributor yang memesan beras premium Bulog,” ujar Wahyu.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan baru jika tidak segera dicarikan solusi. Sebab, pengiriman beras dari Sulawesi membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu. Jika beras sudah dikirim tetapi tidak terserap pasar, risiko penurunan kualitas hingga kedaluwarsa tidak dapat dihindari.
“Kalau sudah dikirim tapi tidak ada yang ambil, tentu ada risiko. Padahal Bulog ditugaskan pemerintah untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan,” katanya.
Wahyu menilai, rendahnya minat distributor perlu menjadi perhatian serius, terlebih menjelang Ramadan dan Idulfitri yang biasanya diikuti peningkatan konsumsi beras. Ia menegaskan, ketersediaan beras premium dari Bulog penting untuk menahan laju kenaikan harga di pasar agar tetap sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Kami berharap distributor bisa mulai menyerap beras premium Bulog. Kami juga akan mengkaji penguatan regulasi, termasuk kemungkinan peraturan gubernur, agar distribusi bisa berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Ia menambahkan, kualitas beras premium Bulog tidak kalah dengan produk sejenis yang beredar di pasaran. Di sejumlah daerah di Jawa, beras premium Bulog bahkan telah diterima dengan baik oleh konsumen.
“Di Jawa beras Bulog ini laris dan rasanya juga bagus. Di Batam mungkin masih kurang sosialisasi sehingga masyarakat belum banyak tahu,” kata Wahyu.
Hal senada disampaikan anggota Komisi II DPRD Kepri, Zainal Abidin. Ia menilai rendahnya serapan distributor menjadi persoalan krusial dalam upaya menjaga ketahanan pangan daerah.
“Kami melihat persoalannya bukan pada stok, tetapi pada distribusi. Ini yang harus segera dibenahi,” ujar Zainal.
Ia menduga, salah satu faktor yang membuat distributor enggan menyerap beras premium Bulog berkaitan dengan margin keuntungan yang terbatas karena harga telah diatur pemerintah.
“Mungkin margin yang diharapkan kurang besar. Sementara Bulog tidak bisa melanggar ketentuan harga. Ini perlu dibicarakan bersama,” katanya.
Untuk itu, Komisi II DPRD Kepri berencana memanggil Bulog dan para distributor dalam rapat dengar pendapat guna membahas persoalan rendahnya serapan tersebut.
“Kami akan undang semua pemangku kepentingan agar terang apa kendalanya. Apakah soal harga, kualitas, atau faktor lain. Tujuannya agar beras nasional dengan kualitas baik ini bisa benar-benar sampai ke masyarakat,” ujar Zainal.
Sementara itu, Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Batam, Guido XL Pereira memastikan stok beras di Batam dan Karimun masih aman untuk tiga hingga empat bulan ke depan.
“Untuk beras medium, stok kami aman. Sementara beras premium sedang kami dorong pemasarannya,” kata Guido.
Ia menyebut Bulog telah menyiapkan pasokan beras premium dari Makassar dan berencana mendatangkan 1.000 hingga 2.000 ton pada tahap awal.
“Harga dari Bulog ke distributor sekitar Rp14.500 per kilogram. Di ritel dijual sekitar Rp15.400 per kilogram, sehingga sebenarnya masih ada margin keuntungan,” jelasnya.
Guido menegaskan, kualitas beras premium Bulog terjamin karena berasal langsung dari petani. “Soal rasa dan kualitas, kami pastikan bagus. Selama ini yang mengonsumsi juga mengakui kualitasnya,” pungkasnya. (***)
Reporter : YASHINTA
Editor : RATNA IRTATIK