Buka konten ini

BATAM (BP) – Upaya menjadikan kawasan Nagoya–Jodoh sebagai koridor pedestrian bernuansa heritage terus dimatangkan. Jajaran Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam mendampingi Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) RI, Helvi Yuni Moraza meninjau langsung kawasan Sei Jodoh, Jumat (9/1).
Peninjauan tersebut dipimpin Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam Mouris Limanto dan menjadi tindak lanjut rencana pembangunan kawasan Nagoya Heritage yang dirancang membentang sepanjang 4,7 kilometer, mulai dari Harbour Bay hingga kawasan Pakuwon.
Helvi menyatakan dukungan penuh Kementerian UMKM terhadap rencana revitalisasi tersebut. Menurutnya, penataan kawasan Nagoya–Jodoh berpotensi memperkuat posisi Batam sebagai etalase investasi nasional sekaligus kota tujuan wisata belanja.
“Saya mewakili Menteri UMKM menyambut dan mendukung terobosan yang dilakukan Pemko Batam dan BP Batam. Ini bukan hanya menjadikan Batam sebagai etalase investasi nasional, tetapi juga mengembalikan Batam sebagai pusat wisata belanja tanpa meninggalkan sejarah masa lalu,” ujarnya. Helvi yang mengaku memiliki kedekatan budaya dengan masyarakat Melayu menekankan pentingnya konsep pembangunan yang tetap memanusiakan pelaku UMKM. Ia menegaskan, UMKM tidak hanya terbatas pada pedagang kaki lima.
“UMKM jangan dipandang hanya pedagang kaki lima. Ruko-ruko juga bagian dari UMKM. Kami berharap konsep baru ini menciptakan lingkungan yang mendukung peran UMKM dalam pembangunan Batam,” katanya.
Ia memastikan pemerintah siap mendukung melalui fasilitas pembiayaan, mulai dari pembiayaan ultra mikro hingga mikro. Skema tersebut diharapkan dapat membantu pedagang dan pelaku UMKM tetap bertahan sekaligus berkembang selama proses revitalisasi berlangsung.
“Untuk usaha kuliner, misalnya, biasanya masuk pembiayaan ultra mikro di bawah Rp15 juta. Kita duduk bersama agar program pemerintah benar-benar bisa terlaksana,” ujarnya.
Helvi juga menegaskan, revitalisasi kawasan tidak akan menghilangkan pedagang dari lokasi saat ini. Menurutnya, kekhawatiran soal penggusuran yang kerap muncul dalam proyek penataan perlu diluruskan sejak awal.
“Kalau bicara usaha mikro, setiap ada revitalisasi pasti muncul anggapan akan ada penggusuran. Padahal tidak. Mereka tetap di sini, hanya dikelola agar lebih menarik, bersih, dan memiliki akses yang lebih baik,” katanya.
Ia meminta Pemko Batam dan BP Batam memberi perhatian pada dua hal utama, yakni pelestarian warisan budaya dan keberlanjutan UMKM. Helvi mencontohkan keberhasilan Kota Bandung dalam menata kawasan belanja tanpa mengorbankan identitas lokal.
Karena itu, ia mendorong pertemuan khusus yang melibatkan pelaku UMKM, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), Himpunan Bank Negara (Himbara), serta masyarakat sekitar untuk menyepakati konsep penataan, pola pembinaan, hingga skema pembiayaan.
“Sosialisasi menjadi kunci agar program ini berjalan mulus dan mendapat dukungan penuh masyarakat. Kami berharap kawasan Jodoh bisa menjadi ikon wisata Kota Batam,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam Mouris Limanto mengatakan penataan kawasan Nagoya–Jodoh masih berada pada tahap awal. Pendataan jumlah pedagang pun belum final.
“Data pedagang belum kami pegang karena ini masih tahap inisiasi. Namun dukungan sudah mulai terlihat. Dari situ, bagaimana caranya program ini harus bisa terwujud,” kata Mouris.
Ia menilai kehadiran Wamen UMKM di lokasi memberikan suntikan optimisme baru bagi seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, proyek penataan kawasan hanya bisa terealisasi melalui kerja kolaboratif.
“Dengan kehadiran Pak Wamen, ini menjadi optimisme baru. Artinya kita serius. Proyek ini tidak bisa dikerjakan sendiri, semua pemangku kepentingan harus bekerja bersama,” ujarnya. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK