Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Indonesia dan China terus memperkuat kerja sama di bidang pendidikan sepanjang 2025. Kemitraan ini mencakup sektor strategis, mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga kesehatan.
Data survei menunjukkan, China menjadi tujuan favorit bagi banyak pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Dalam pertemuan pada Juni 2025, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie bertemu Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong. Keduanya sepakat memperkuat kerja sama pendidikan, termasuk pendidikan vokasi.
Pendidikan vokasi menjadi fokus penting. Sepanjang 2025, perguruan tinggi vokasi kedua negara menandatangani sejumlah kerja sama baru. Sekolah Vokasi IPB misalnya, menjalin kolaborasi dengan perguruan tinggi China di bidang pertanian dan teknologi digital. UIN Walisongo, Semarang, bekerja sama perguruan tinggi di Provinsi Jiangsu untuk pendidikan AI.
Selain itu, kedua negara rutin menyelenggarakan pertemuan antara perguruan tinggi vokasi dan pelaku industri. Salah satunya, Aliansi Industri dan Pendidikan TVET China-Indonesia (CITIEA) yang digelar di China pada September 2025. Pertemuan ini menghasilkan sejumlah kerja sama baru, bersamaan dengan Forum China-ASEAN tentang Integrasi AI dalam pendidikan vokasi.
Beberapa inisiatif penting yang disepakati meliputi pembentukan pusat pengembangan keterampilan AI dan green skills, program pendidikan vokasi bersistem ganda, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan platform digital “TVET Digital Platform” berbasis AI.
Kerja sama pendidikan juga mencakup penelitian strategis di bidang kesehatan dan maritim. Universitas Indonesia (UI) menjalin kolaborasi dengan Hubei University of Chinese Medicine di bidang pengobatan tradisional, serta dengan Tsinghua University untuk pendirian Belt and Road Laboratory for Vaccine and Genomics.
Di bidang kelautan, UGM, UI, ITB, dan lembaga China meneliti keanekaragaman hayati dan geologi maritim perairan selatan Sumba.
Kerja sama ini sejalan dengan meningkatnya popularitas China sebagai tujuan pendidikan tinggi. Survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan China menjadi pilihan utama karena tersedianya beasiswa dan biaya kuliah serta biaya hidup terjangkau bagi pelajar Indonesia. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO