Buka konten ini

NONGSA (BP) – Pemerintah Kota Batam bersama BP Batam melakukan survei lapangan di sejumlah titik di Kecamatan Nongsa, Rabu (7/1), untuk mempercepat penanganan persoalan sampah sekaligus mencari opsi lokasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Peninjauan tersebut dipimpin langsung Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra. Dalam kegiatan itu, Li Claudia meninjau kondisi Tempat Penampungan Sementara (TPS) serta akses menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur.
Li Claudia menyampaikan, salah satu titik rawan kemacetan, yakni jalan tanjakan menuju TPA Telaga Punggur, kini telah selesai dibeton. Perbaikan akses tersebut diharapkan dapat memperlancar mobilitas armada pengangkut sampah.
“Kemarin saya meninjau TPS sementara sekaligus melihat pembaruan kondisi di TPA Telaga Punggur. Jalan tanjakan yang selama ini menjadi salah satu penyebab kemacetan sekarang sudah dibeton,” ujar Li Claudia, Jumat (9/1).
Ia menegaskan, pemerintah daerah terus berkomitmen mencari dan mempercepat berbagai solusi penanganan sampah di Batam. Menurutnya, persoalan sampah membutuhkan kerja bersama dan konsistensi dari seluruh pihak.
“Kami tetap berkomitmen dan terus bersemangat menyelesaikan persoalan sampah di Kota Batam. Batam bersih bukan lagi sekadar harapan, melainkan tujuan kita bersama,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, mengatakan survei lapangan juga difokuskan untuk mengidentifikasi potensi lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi TPST.
Dari hasil awal, ditemukan beberapa opsi lahan, meski luasnya masih jauh dari kebutuhan ideal.
“Dari survei kemarin memang ada beberapa opsi lahan untuk TPST. Namun masih dikaji lebih lanjut oleh tim lahan. Kebutuhan ideal kita sekitar 4.000 meter persegi, sementara hasil survei baru sekitar 700 meter persegi,” jelas Mouris.
Ia menambahkan, BP Batam akan melanjutkan pembahasan dengan tim lahan serta membuka peluang kolaborasi dengan pelaku usaha. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk penyediaan lahan.
“Kami akan mencoba meminta dukungan CSR dari para pengusaha agar menyediakan lahan. Semoga ada yang bersedia. Sebenarnya lahan 2.000 meter persegi masih bisa diolah, meski belum maksimal, karena ketersediaan lahan di Batam semakin terbatas,” ujarnya.
Menurut Mouris, kolaborasi dengan sektor swasta menjadi sangat penting di tengah keterbatasan lahan dan anggaran pemerintah. Persoalan sampah, kata dia, tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kemampuan pemerintah.
“Saat ini kami terus merangkul pengusaha di Batam untuk ikut membantu, khususnya di masa kepemimpinan Pak Amsakar Achmad dan Ibu Li Claudia Chandra. Jika hanya mengandalkan anggaran dan birokrasi pemerintah, penyelesaiannya tentu cukup rumit,” katanya.
Survei lapangan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama Pemko Batam dan BP Batam untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah, sekaligus menjawab berbagai persoalan yang selama ini menghambat optimalisasi operasional TPS dan TPA di Batam.
Sementara itu, persoalan tumpukan sampah masih dikeluhkan warga di sejumlah titik di Kecamatan Batuaji. Selain mengganggu pemandangan, bau menyengat dari TPS di pinggir jalan dinilai mengancam kenyamanan dan kesehatan masyarakat.
Pantauan di kawasan Batuaji menunjukkan sampah masih menumpuk di tepi jalan. Di beberapa TPS, sampah terlihat menggunung dan dipenuhi lalat. Kondisi tersebut paling kentara di TPS Jalan Marina City, tepatnya di sekitar Simpang Jupiter.
Camat Batuaji, Addi Harnus, mengatakan pihak kecamatan tengah menyiapkan TPS baru untuk mengantisipasi penumpukan sampah di TPS lama.
TPS baru tersebut berlokasi di Jalan Diponegoro, tepatnya di seberang TPU Sei Temiang.
“TPS baru ini disiapkan untuk mengatasi penumpukan sampah di TPS lama, seperti di kawasan Jupiter dan Marina, yang sudah tidak tertampung lagi,” ujar Addi, Jumat (9/1).
Ia menjelaskan, TPS baru itu belum dapat digunakan dalam waktu dekat karena masih dalam tahap pembukaan lahan dan akses jalan. Namun, jika tidak ada kendala, TPS tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada pekan depan.
“Tiga atau empat hari lagi baru bisa digunakan. Harapannya, TPS ini juga bisa mencegah munculnya TPS liar di tepi jalan raya,” katanya.
Keluhan juga datang dari warga sekitar. Jeri, warga Perumahan Jupiter, mengaku terganggu dengan bau busuk dari tumpukan sampah di TPS yang berada di pinggir jalan utama menuju kawasan perumahan.
“Seharusnya TPS ini dipindahkan ke lahan yang jauh dari jalan utama. Setiap hari kami harus mencium bau sampah,” ujarnya.
Selain bau, tumpukan sampah yang menggunung juga memicu banyaknya lalat beterbangan di sekitar lokasi. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada kesehatan
warga.
“Kalau memang belum dipindahkan, setidaknya jangan sampai sampah menumpuk seperti ini,” tutupnya. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO