Buka konten ini

DI zaman ketika dunia berada di ujung jari, membaca tak lagi harus beraroma kertas. Layar ponsel, tablet, dan laptop menjelma perpustakaan mini yang selalu siap dibuka kapan saja. Sekilas, semuanya terasa praktis, cepat, dan modern.
Namun psikologi modern justru menemukan fakta menarik. Di tengah gempuran digital, mereka yang tetap setia membaca buku fisik ternyata menyimpan keunggulan kognitif yang tak bisa dianggap sepele.
Pilihan sederhana antara layar dan halaman kertas ternyata berkelindan erat dengan cara otak bekerja. Membaca buku fisik bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan pengalaman mental yang membentuk fokus, ingatan, hingga kedalaman berpikir.
Dilansir dari Geediting, Rabu (7/1), psikologi mencatat setidaknya ada tujuh keunggulan kognitif yang kerap dimiliki pembaca buku fisik.
Pertama, pemahaman yang lebih dalam. Buku cetak memberi struktur spasial yang jelas. Otak mampu “menandai” letak informasi—di awal, tengah, atau akhir halaman. Hal ini membantu pembaca membangun peta mental isi bacaan. Berbeda dengan layar digital yang membuat teks terasa mengalir tanpa batas, buku fisik membantu pembaca tidak sekadar membaca, tetapi benar-benar memahami.
Kedua, fokus yang lebih stabil. Buku fisik bebas dari notifikasi, iklan, dan godaan berpindah aplikasi. Pembaca dilatih bertahan pada satu stimulus dalam waktu lama. Dalam psikologi perhatian, kemampuan fokus mendalam ini menjadi keterampilan langka di era serba cepat, sekaligus penting dalam belajar dan mengambil keputusan.
Ketiga, daya ingat jangka panjang yang lebih kuat. Membaca buku fisik melibatkan banyak indera—melihat, menyentuh, bahkan mencium aroma kertas. Aktivasi multisensorik ini memperkuat proses penyimpanan memori. Tak heran, pembaca buku fisik lebih mudah mengingat isi bacaan meski telah berlalu lama.
Keempat, berpikir kritis yang lebih tajam. Layar digital kerap mendorong kebiasaan skimming—membaca cepat dan dangkal. Buku fisik memaksa ritme lebih lambat dan reflektif. Di titik inilah otak diberi ruang untuk menganalisis, menghubungkan ide, hingga mempertanyakan isi bacaan. Hasilnya, pembaca tidak mudah menelan informasi mentah.
Kelima, regulasi emosi yang lebih baik. Membaca buku fisik memberi efek menenangkan. Aktivitas ini mengurangi kelelahan kognitif akibat layar dan membantu menurunkan stres. Secara psikologis, pembaca buku fisik cenderung lebih stabil secara emosi dan nyaman dengan keheningan.
Keenam, imajinasi yang lebih hidup. Tanpa animasi dan visual instan, otak dipaksa membangun gambaran sendiri. Tokoh, suasana, dan alur cerita lahir dari imajinasi pembaca. Latihan visualisasi ini memperkuat kreativitas, empati, dan kemampuan berpikir abstrak.
Ketujuh, hubungan yang lebih dalam dengan pengetahuan. Membaca buku fisik kerap menjadi ritual—memilih buku, membuka halaman, memberi tanda. Ikatan emosional ini membuat informasi lebih bermakna dan bertahan lama. Pengetahuan tak sekadar dikonsumsi, tetapi dihayati.
Di era yang serba cepat, buku fisik memang terkesan kuno. Namun psikologi justru menunjukkan sebaliknya. Di balik kesunyian halaman kertas, tersimpan latihan mental yang kuat: fokus mendalam, ingatan tajam, pemikiran kritis, dan emosi yang lebih stabil.
Di tengah dunia yang riuh oleh layar, membaca buku fisik adalah perlawanan yang sunyi—namun penuh daya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO