Buka konten ini

Di tengah hamparan pasir keemasan Gurun Pasir Busung, Desa Busung, Kabupaten Bintan, ada satu sosok yang hampir selalu mencuri perhatian setiap pengunjung.
BUKAN manusia. Bukan pula bangunan atau lanskap gurun buatan yang eksotis. Sosok itu adalah seekor kuda betina bernama Azura.
Ia berdiri anggun di bawah terik matahari, dengan bulu mengilap dan sorot mata yang teduh. Setiap langkah kakinya di atas pasir seolah menyatu dengan semilir angin yang berembus pelan di kawasan wisata tersebut. Azura bukan sekadar pelengkap destinasi, melainkan jiwa yang memberi nyawa pada Gurun Pasir Busung.
Bagi banyak wisatawan, Azura telah menjelma menjadi primadona. Sahabat perjalanan. Ikon yang menghadirkan pengalaman berbeda di tengah hamparan pasir yang luas.
Kuda betina berusia sekitar delapan tahun ini berasal dari Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Dari tanah Batak yang berhawa sejuk, Azura menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya berlabuh di tanah Melayu, Bintan.
Sejak 2024, Azura resmi menjadi bagian dari Gurun Pasir Busung. Di tempat baru inilah ia menemukan rumah kedua—sekaligus peran penting dalam menyambut wisatawan dari berbagai daerah.
Setiap hari, Azura dengan sabar melayani pengunjung yang ingin merasakan sensasi menunggang kuda.
Langkahnya pelan, sikapnya tenang. Ia membawa wisatawan berkeliling di atas pasir tanpa tergesa, seolah paham bahwa di atas punggungnya ada rasa penasaran, harapan, dan kebahagiaan yang ingin dirasakan.
Tak tampak gelisah atau liar. Azura justru menghadirkan rasa aman. Banyak anak-anak hingga orang dewasa yang awalnya ragu, perlahan berubah menjadi tersenyum setelah beberapa menit berada di atas punggungnya. Ketakutan memudar, digantikan rasa percaya.
Salah satunya dirasakan Yolana, wisatawan asal Kabupaten Kepulauan Anambas. Perempuan 27 tahun ini tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat pertama kali menunggangi kuda.
Seumur hidupnya, ini adalah pengalaman pertamanya.
“Baru kali ini tunggangi kuda. Awalnya takut jatuh, lama-lama jadi senang,” ujar Yolana sambil tersenyum, mengenang langkah-langkah awal Azura yang membawa dirinya menyusuri pasir.
Ketakutan yang sempat menggelayuti hatinya pelan-pelan sirna. Di atas punggung Azura, Yolana seperti diajak berdamai dengan rasa cemas—dan menggantinya dengan kegembiraan sederhana.
Bagi Yolana, momen itu bukan soal keberanian besar, melainkan keberanian kecil untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Bagi banyak pengunjung lainnya, Azura bukan sekadar wahana wisata. Ia adalah pengalaman. Guru kecil tentang kesabaran, ketenangan, dan kepercayaan di tengah dunia yang bergerak cepat.
Setiap langkah Azura di Gurun Pasir Busung menyimpan cerita. Ada tawa, ada rasa kagum, dan ada kenangan yang akan dibawa pulang oleh siapa pun yang pernah berada di atas punggungnya.
Di balik tubuhnya yang kokoh, Azura menyimpan kelembutan yang jarang dimiliki. Ia setia menjalani rutinitasnya, menemani wisatawan yang ingin merasakan indahnya berjalan di atas pasir bersama seekor kuda.
Tanpa suara dan tanpa kata, Azura telah menjadi bagian penting denyut wisata Desa Busung. Ia bukan sekadar hewan, melainkan sahabat yang menghubungkan manusia dengan alam dan ketenangan.
Di gurun pasir yang panas dan luas itu, Azura berdiri sebagai simbol kehangatan—seekor kuda betina dari tanah jauh yang kini menjadi sumber senyum, keberanian, dan kenangan bagi siapa pun yang menemuinya. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY