Buka konten ini

KAPAL Sabuk Nusantara 48 yang melayani rute Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) Tanjungpinang–Tambelan–Natuna dipastikan batal berangkat, hari ini, Kamis (8/1). Pembatalan dilakukan akibat kondisi cuaca ekstrem di perairan Kepulauan Riau.
Keputusan tersebut diambil demi menjaga keselamatan penumpang, menyusul tingginya gelombang laut yang melampaui batas aman, khususnya di jalur pelayaran menuju Natuna.
Kepala PT Pelni Cabang Tanjungpinang, Putra Kencana, mengatakan penundaan keberangkatan merupakan langkah mitigasi untuk mencegah risiko selama pelayaran saat cuaca belum bersahabat.
“Sesuai informasi dari BMKG dan laporan nahkoda, kondisi cuaca belum memungkinkan. Karena itu, keberangkatan kapal Sabuk Nusantara 48 kami tunda hingga cuaca membaik,” kata Putra, Rabu (7/1).
Ia menjelaskan, penumpang yang telah membeli tiket dapat mengajukan pengembalian dana (refund) sebesar 100 persen. Penumpang cukup membawa kartu tanda penduduk (KTP) yang terdaftar saat pembelian tiket serta tiket yang dimiliki.
“Untuk syarat refund, penumpang harus membawa KTP yang terdaftar di tiket dan tiket yang sudah dibeli,” ujarnya.
Hingga saat ini, dari total 89 penumpang yang telah membeli tiket Kapal Sabuk Nusantara 48, baru tujuh orang yang mengajukan pembatalan.
“Bagi penumpang yang tidak melakukan refund, tiket tidak hangus dan bisa digunakan kembali sambil menunggu informasi jadwal keberangkatan berikutnya,” pungkasnya.
Tiket KM Bukit Raya Diburu Penumpang
Sementara itu, di Kabupaten Kepulauan Anambas keberangkatan kapal ferry MV Seven Star Island yang melayani rute Tanjungpinang–Kabupaten Kepulauan Anambas pada Jumat (9/1) dipastikan dibatalkan.
Keputusan tersebut diambil demi keselamatan pelayaran dan para penumpang menyusul kondisi cuaca ekstrem di perairan Anambas.
Pembatalan dilakukan karena gelombang laut dilaporkan mencapai ketinggian hingga 4 meter. Kondisi itu dinilai membahayakan keselamatan kapal ferry jika tetap dipaksakan berlayar.
Selain gelombang tinggi, angin kencang disertai arus laut yang kuat turut memperburuk situasi di laut. Faktor tersebut berpotensi mengganggu stabilitas kapal selama pelayaran.
Operator MV Seven Star Island, Fahmi, membenarkan penundaan keberangkatan tersebut. Menurutnya, keputusan diambil berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Keberangkatan ditunda untuk hari Jumat. Prediksi dari BMKG menunjukkan gelombang kencang,” kata Fahmi, Rabu (7/1).
Dengan dibatalkannya pelayaran ferry, arus penumpang diperkirakan beralih ke kapal Pelni KM Bukit Raya yang dijadwalkan berangkat pada Selasa (13/1) mendatang.
KM Bukit Raya merupakan kapal berukuran besar dengan kapasitas penumpang yang lebih banyak dibandingkan kapal ferry. Kapal ini juga dilengkapi fasilitas keselamatan yang lebih memadai serta dikenal lebih stabil saat menghadapi gelombang tinggi.
Namun, tingginya minat masyarakat membuat tiket KM Bukit Raya cepat habis.
Berdasarkan pantauan melalui aplikasi Pelni Mobile, tiket keberangkatan dari Pelabuhan Kijang menuju Anambas sudah tidak tersedia.
Kondisi tersebut diperparah karena masih berada dalam periode arus balik Natal dan Tahun Baru, di mana banyak warga kembali ke tempat kerja dan sekolah di Anambas.
Salah seorang calon penumpang, Rahmad, mengaku kesulitan mendapatkan tiket. Ia telah mencoba mencari melalui aplikasi maupun konter resmi Pelni, namun hasilnya nihil.
“Tadi kami cek di aplikasi, tiket sudah habis. Di konter Pelni juga sama, tidak ada lagi,” ujar Rahmad.
Kini Rahmad dan calon penumpang lainnya hanya bisa berharap ada penumpang yang membatalkan perjalanan, sehingga kursi kosong dapat kembali dijual dan mereka tetap bisa berangkat menuju Anambas. (***)
Reporter : Mohamad Ismail – Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY