Buka konten ini

WASHINGTON DC (BP) – Donald Trump dan Amerika Serikat menegaskan alasan penyerbuan Venezuela dan penculikan Presiden Nicolás Maduro serta istrinya, Cilia Flores, berpusat pada penguasaan minyak.
Duta Besar AS di PBB, Mike Waltz, menyatakan, tak boleh ada rezim yang mengontrol cadangan minyak Venezuela dan bermusuhan dengan AS. Trump mengakui, negara Amerika Selatan itu akan menyerahkan minyak mentah senilai USD 2 miliar kepada AS.
“Minyak ini akan dijual dengan harga pasar dan uang itu dikendalikan oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!” kata Trump melalui akun Truth Social, dikutip USA Today.
Trump juga menekankan perusahaan-perusahaan AS akan menanamkan miliaran dolar dalam produksi minyak Venezuela. Negeri Caracas itu memiliki cadangan minyak 330 miliar barel, terbesar di dunia. Sebagian masih tertahan di kapal dan tangki akibat blokade AS.
Namun, Penjabat Presiden Delcy Rodríguez menegaskan pemerintahan yang dipimpinnya tetap menjalankan gaya pemerintahan Bolivarian.Ia menuntut penghentian agresi dan pelecehan terhadap Venezuela serta menegaskan komitmen pada perdamaian dan kedaulatan nasional.
Greenland Jadi Sasaran AS
Trump juga menyatakan kebutuhan AS atas Greenland terkait pertahanan. Namun, wilayah otonom Denmark itu juga menyimpan cadangan mineral tanah jarang yang strategis untuk industri teknologi tinggi. Penguasaan Greenland diharapkan mengurangi ketergantungan AS pada Tiongkok.
Pangkalan Antariksa Pituffik di Greenland Barat Laut mendukung sistem peringatan rudal, pertahanan misil, dan pengawasan ruang angkasa bagi AS dan NATO.
Sementara itu, Tiongkok menuntut pembebasan Maduro dan istrinya, menegaskan komitmen terhadap stabilitas regional, dan menolak intervensi asing di Amerika Latin.
“China mendesak pembebasan Presiden Maduro dan istrinya serta memastikan keselamatan mereka,” kata Juru Bicara Kemenlu China, Mao Ning, dalam jumpa pers di Beijing, 6 Januari.
Mao menegaskan, Beijing mendukung penyelesaian perbedaan secara damai dengan menghormati kedaulatan dan integritas semua negara. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK