Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Ekspor ikan hidup dari Kabupaten Kepulauan Anambas ke Hong Kong kembali berjalan setelah sempat terhenti selama satu tahun.
Dibukanya kembali kran ekspor ini disambut positif oleh nelayan dan pelaku usaha perikanan di daerah tersebut.
Sebelumnya, aktivitas ekspor ikan hidup terpaksa dihentikan akibat konflik yang terjadi di Hong Kong. Kondisi tersebut berdampak pada jalur perdagangan dan permintaan pasar, sehingga hasil budidaya ikan hidup nelayan Anambas sempat menumpuk.
Ekspor kembali dimulai pada Rabu (7/1) menggunakan kapal pengangkut ikan hidup MV Putri Ayu 8. Kapal tersebut mengangkut ikan hasil budidaya nelayan Anambas untuk dikirim ke Hong Kong.
Sejumlah komoditas unggulan diekspor dalam pengiriman perdana ini, antara lain kerapu macan, kerapu sunu, kerapu cantang, kerapu cantik, dan kerapu hitam. Jenis ikan tersebut dikenal memiliki permintaan tinggi di pasar luar negeri.
Total ikan hidup yang dikirim mencapai sekitar 7 ton.
Ikan-ikan itu dikumpulkan dari sejumlah keramba dan lokasi budidaya milik nelayan di berbagai wilayah Kepulauan Anambas. Selama satu tahun ekspor terhenti, nelayan terpaksa mengandalkan pasar lokal dan pembeli dalam negeri. Akibatnya, harga ikan hidup sempat tidak stabil dan berdampak pada penurunan pendapatan nelayan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan, Pertanian, dan Pangan (DPPP) Kabupaten Kepulauan Anambas, Arcan Iskandar, memastikan pengiriman kali ini tidak menyertakan ikan napoleon. “Kalau untuk ikan napoleon tidak ada yang dikirim ke Hong Kong,” ujar Arcan.
Meski ekspor kembali dibuka, harga ikan hidup justru mengalami penurunan. Jika sebelumnya nelayan dapat menjual dengan harga sekitar Rp300 ribu per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp250 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut membuat sebagian nelayan belum sepenuhnya merasakan dampak positif dari dibukanya kembali ekspor. Meski demikian, mereka tetap berharap harga akan kembali membaik seiring stabilnya permintaan pasar.
Arcan menjelaskan, penurunan harga diduga dipengaruhi oleh harga pasaran di Hong Kong. “Harga turun, kemungkinan dipicu oleh harga pasaran di Hong Kong,” katanya.
Ia menambahkan, mulai tahun ini Anambas akan dilayani dua kapal pengangkut ikan hidup menuju Hong Kong. Dengan demikian, aktivitas ekspor diharapkan dapat berlangsung lebih rutin setiap bulan.
“Harapan Bupati seperti itu, sehingga setiap bulan ada ekspor dan ekonomi bisa kembali berputar,” pungkasnya. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY