Buka konten ini
SEMENTARA itu, kesiapan Sulawesi mengirim 4.000 ton beras premium dari Makassar ke Kota Batam tak diragukan. Namun, persoalan muncul di Batam. Belum ada distributor yang menyatakan minat membeli beras tersebut, meski stok itu telah disiapkan Perum Bulog sebagai langkah menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Batam, Guido XL Pereira, mengatakan, pengiriman beras premium tersebut direncanakan dilakukan secara bertahap, diawali dengan 1.000 ton pada tahap pertama. Namun, pengiriman baru bisa dilakukan apabila sudah ada pembeli di Batam.
“Pengiriman itu sifatnya bertahap. Tahap awal 1.000 ton, dengan catatan pembelinya di Batam sudah ada. Sampai sekarang belum ada,” ujar Guido, Rabu (7/1).
Menurut Guido, Bulog Batam telah menerima sampel beras premium asal Makassar yang saat ini disimpan di kantor Bulog Batam. Sampel tersebut sudah ditawarkan kepada sejumlah distributor beras di Batam, namun belum mendapatkan respons.
“Sampel sudah saya tawarkan ke distributor-distributor. Lima distributor yang saya hubungi langsung sampai sekarang belum ada respons,” katanya.
Guido memperkirakan harga beras premium asal Makassar tersebut jika tiba di Batam berada di kisaran Rp14.500 per kilogram, dengan kemasan polos ukuran 50 kilogram.
Harga tersebut belum termasuk biaya tambahan apabila distributor melakukan pengemasan ulang menjadi ukuran 5 kilogram atau 10 kilogram dengan merek masing-masing.
“Kalau sampai di Batam, kisaran harganya Rp14.500 per kilogram, itu masih kemasan polos 50 kilogram. Kalau dikemas ulang sesuai merek distributor, tentu ada biaya tambahan,” jelasnya.
Sementara itu, Bulog Batam telah lebih dulu menyalurkan 48 ton beras premium asal Subang, Jawa Barat, ke pasaran Batam. Beras tersebut dipasarkan dengan merek Sentra Rama dan Punakawa, dan telah tersedia di dua gerai ritel modern, termasuk di kawasan Batam Center.
“Beras dari Subang sudah masuk, total 48 ton, dan sudah disalurkan ke ritel modern,” ujar Guido.
Meski rencana mendatangkan beras premium dari Makassar belum terealisasi, Guido memastikan ketersediaan beras di Batam masih relatif aman.
Berdasarkan pemantauan Bulog bersama Satgas Pangan, pasokan beras di pasar tradisional maupun ritel modern dinilai masih mencukupi untuk beberapa bulan ke depan.
“Kalau saya lihat, stok beras di Batam masih cukup. Distributor juga masih mendatangkan beras dari Karawang, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Jadi, untuk saat ini masih aman,” katanya.
Namun demikian, Guido mengakui harga beras di pasaran mengalami kenaikan. Salah satunya beras merek Harumas yang sebelumnya dijual di bawah Rp15.000 per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp15.400 hingga Rp15.500 per kilogram.
“Di ritel, kemasan 5 kilogram sekarang dijual sekitar Rp77.000 sampai Rp77.500. Memang ada kenaikan dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.
Bulog, lanjut Guido, tetap menjalankan tugas pokok untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan, khususnya beras, di Kota Batam. Jika ke depan kondisi pasokan mulai tidak normal dan stok di pasaran menipis, Bulog siap segera mendatangkan beras dari luar daerah, termasuk dari Makassar.
“Kalau nanti kondisi sudah tidak normal dan stok mulai berkurang, saya pasti minta segera dikirim ke Batam. Bulog siap, tinggal menunggu kebutuhan dan permintaan di lapangan,” tutupnya.
Dewan Usulkan Datangkan dari Daerah Terdekat
Lonjakan harga sejumlah bahan pangan pokok di Batam dinilai kian mengkhawatirkan. Setelah harga beras merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir, harga ayam potong dan cabai juga masih bertahan di level tinggi.
Kondisi ini diperberat dengan penerapan Upah Minimum Kota (UMK) Batam 2026 yang belum sepenuhnya berjalan. Sejumlah perusahaan masih menunggu akhir bulan untuk melakukan penyesuaian penggajian setelah menghitung kinerja pegawai sepanjang Januari.
Anggota DPRD Kepulauan Riau, Wahyu Wahyudin, menilai situasi ini membutuhkan langkah konkret dari Pemerintah Kota Batam.
“Saya kira perlu ada langkah konkret berupa kerja sama Pemko Batam dengan kota atau kabupaten penghasil komoditas tertentu yang selama ini kerap mengalami kenaikan dan memicu inflasi,” ujar Wahyu, Rabu (7/1).
Menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan jalur distribusi khusus bagi komoditas pangan yang rentan mengalami fluktuasi harga. Dengan distribusi yang lebih terjamin, suplai ke Batam diharapkan menjadi lebih stabil.
“Beberapa daerah di Sumatra daratan, Jawa, dan Sulawesi saya kira bisa menjadi pemasok kebutuhan pangan Batam,” katanya.
Selain menggandeng daerah produsen, Wahyu juga meminta pemerintah daerah memperkuat dialog dengan petani dan peternak lokal. Rapat dengar pendapat dinilai penting agar pelaku usaha pertanian di Batam dapat mengembangkan komoditas yang paling dibutuhkan masyarakat.
“Pemko juga perlu duduk bersama petani dan peternak lokal, supaya mereka bisa menanam atau beternak sesuai kebutuhan riil masyarakat Batam,” ujarnya.
Ia menegaskan, ketahanan pangan di kota dengan populasi lebih dari 1,3 juta jiwa membutuhkan strategi jangka panjang dan konsistensi kebijakan distribusi. Tanpa intervensi yang terukur, gejolak harga dikhawatirkan akan terus berulang dan menekan ekonomi rumah tangga. (*)
Reporter : ARJUNA – YASHINTA
Editor : RATNA IRTATIK