Buka konten ini

PELEMAHAN ekspor nasional mulai memberi sinyal kehati-hatian bagi industri asuransi. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai penurunan ekspor Indonesia selama dua bulan berturut-turut berpotensi menahan laju pertumbuhan permintaan asuransi marine cargo.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia pada Oktober dan November 2025 tercatat mengalami kontraksi. Bahkan, pada November 2025 pelemahan kian dalam dengan penurunan mencapai 6,6 persen secara tahunan (year on year/YoY), dibandingkan Oktober 2025 yang terkontraksi 2,31 persen (YoY).
“AAUI melihat kontraksi ekspor pada Oktober–November 2025 memang berpotensi menahan laju pertumbuhan asuransi marine cargo,” ujar Ketua Umum AAUI Budi Herawan, kemarin (6/1).
Meski demikian, Budi menilai dampaknya terhadap industri asuransi secara keseluruhan masih relatif terbatas. Hingga kuartal III 2025, premi asuransi marine cargo masih tumbuh sekitar 2,1 persen (YoY). Di sisi lain, klaim yang dibayarkan justru mengalami penurunan yang cukup signifikan.
“Kondisi ini mencerminkan aktivitas perdagangan masih berjalan, meskipun volume dan nilainya lebih selektif,” tuturnya.
Secara historis, permintaan asuransi marine cargo banyak ditopang oleh ekspor komoditas utama seperti batu bara, mineral, crude palm oil (CPO), dan produk turunannya, termasuk hasil pertanian serta manufaktur. Selain itu, impor bahan baku dan barang modal untuk kebutuhan industri domestik juga berkontribusi terhadap permintaan perlindungan asuransi pengangkutan.
Untuk menjaga pertumbuhan premi, AAUI mendorong perusahaan asuransi memperluas kerja sama dengan eksportir, importir, freight forwarder, dan perbankan. Selain itu, pengembangan produk yang lebih fleksibel sesuai profil risiko logistik serta pemanfaatan digitalisasi dalam proses underwriting dan penerbitan polis dinilai krusial.
“Peningkatan layanan manajemen risiko dan klaim juga menjadi nilai tambah penting bagi pelaku usaha perdagangan,” kata Budi. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO