Buka konten ini

PASOKAN beras ke Batam kini sepenuhnya mengandalkan produksi dalam negeri. Salah satu pasokan besar berasal dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang menyiapkan pengiriman sekitar 4.000 ton beras ke Batam. Namun, meski stok dipastikan aman, harga beras di pasaran masih bertahan tinggi dan dikeluhkan warga.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan tidak ada aktivitas impor beras ke Batam, baik dalam setahun terakhir maupun beberapa tahun sebelumnya. Seluruh beras yang beredar merupakan produksi domestik yang didatangkan dari berbagai daerah sentra pangan.
“Dari Direktorat Lalu Lintas Barang, kami tidak pernah mengeluarkan izin impor. Artinya, beras yang beredar di Batam seluruhnya adalah beras dalam negeri,” kata Amsakar, Selasa (6/1).
Ia menjelaskan, pasokan beras Batam umumnya masuk melalui Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta, serta dari Lampung dan Sulawesi. Namun, panjangnya rantai distribusi, keterbatasan transporter, serta tingginya ongkos logistik membuat harga beras di tingkat konsumen menjadi lebih mahal.
“Batam ini bukan daerah produksi. Beras harus melalui rantai distribusi yang panjang. Itu yang memengaruhi harga,” ujarnya.
Pada 26 November 2025, Batam menerima pengiriman tahap awal sebanyak 48 ton beras premium merek Befood Sentra Ramos dan Befood Punabawan dari Sentra Pengolahan Beras Subang melalui Pelabuhan Tanjungpriok. Di hari yang sama, masuk pula 8 ton beras Befood Punabawan dari Lampung.
Selain itu, pasokan dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat direncanakan masuk dengan volume sekitar 4.000 ton beras kemasan 50 kilogram. Pengiriman sempat terkendala keterbatasan alat angkut yang bersedia masuk ke Batam.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Dengan pasokan yang masuk dan yang akan dikirim, stok beras premium di Batam kami pastikan aman,” kata Amsakar.
Meski demikian, harga beras di pasaran masih relatif tinggi. Di kawasan Batam Center, harga beras Harumas kini mencapai Rp16 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp14 ribu per kilogram. Beras Minang Raya juga dijual Rp16 ribu per kilogram.
Sementara itu, beras Gonggong dijual Rp13 ribu per kilogram, Jawa Raya Rp14.500 per kilogram, dan Putri Padang Rp13.500 per kilogram. Sejumlah merek lain juga mengalami penyesuaian harga dengan besaran bervariasi.
Murni, karyawan salah satu swalayan di Batam Center, membenarkan adanya kenaikan harga tersebut. Ia menyebut hampir seluruh merek beras mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.
“Harga naik hampir semua. Harumas sekarang sudah Rp16 ribu per kilo. Merek lain juga ikut,” ujarnya.
Kenaikan harga beras turut dirasakan pedagang makanan. Dwi, pedagang makanan di Batam, mengaku terpaksa menyesuaikan harga jual karena biaya bahan baku terus meningkat.
“Beras mahal, ayam juga naik. Kalau tidak disesuaikan, kami rugi,” katanya.
Hal senada disampaikan Syamsul, pedagang makanan lainnya. Ia menyebut kenaikan harga bahan pokok membuat margin keuntungan pedagang semakin menipis.
“Kalau harga tidak dinaikkan, kami tidak jalan. Tapi kalau terlalu mahal, pembeli bisa berkurang,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolresta Barelang Kombes Anggoro Wicaksono menyatakan pihaknya akan menyelidiki penyebab kenaikan harga beras di Batam.
Polisi akan menurunkan tim ke pasar dan distributor untuk memastikan tidak ada praktik penimbunan.
“Kami akan lakukan penyelidikan dan menindaklanjuti informasi dari masyarakat. Kami juga berkoordinasi dengan Bulog dan pemerintah,” kata Anggoro.
Ia mengimbau masyarakat tidak panik dan segera melaporkan jika menemukan indikasi penimbunan bahan pokok. Penimbunan dapat dijerat Pasal 107 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dengan ancaman pidana penjara hingga lima tahun. (***)
Reporter : ARJUNA – YASHINTA – YOFI YUHENDRI
Editor : RATNA IRTATIK