Buka konten ini

TATA letak furnitur di rumah kerap bertahan terlalu lama, seolah tak pernah dipertanyakan. Padahal, seiring waktu, susunan yang dulu terasa nyaman bisa berubah menjadi penghambat aktivitas. Ruang terasa sempit, alur gerak tidak efisien, bahkan memunculkan rasa tidak betah. Situasi ini bukan hal asing bagi para desainer interior, yang kerap menemui klien terjebak pada kebiasaan lama. Berikut sejumlah tanda halus—dan kadang cukup jelas—bahwa tata letak furnitur di rumah sudah tidak lagi bekerja dengan baik.
Salah satu tanda paling mudah dikenali muncul saat menjamu tamu. Jika setiap kali ada kunjungan Anda harus menarik kursi dari ruang lain atau sibuk mengatur ulang posisi duduk agar percakapan bisa mengalir, itu pertanda susunan furnitur perlu ditinjau ulang. Penataan kursi yang saling berhadapan, ditambah alternatif tempat duduk seperti bangku panjang, ottoman, atau stool, dapat membuat ruang lebih ramah untuk berkumpul.
Tata ruang yang terasa stagnan juga patut dicermati. Bekerja dari rumah, mendampingi bayi baru lahir, atau terjebak cuaca buruk dalam waktu lama bisa membuat penghuni rumah cepat jenuh. Dalam kondisi ini, mengubah posisi furnitur dapat menjadi solusi sederhana tanpa biaya. Memindahkan sofa, menukar posisi lampu, atau menggeser meja bisa memberi suasana baru pada ruang yang sama.
Alasan lain yang lebih mendesak adalah keamanan. Orang tua baru mungkin mulai mengkhawatirkan sudut tajam meja, sementara lansia membutuhkan jalur yang lebih lapang untuk alat bantu mobilitas. Rumah idealnya berkembang mengikuti kebutuhan penghuninya. Ketika kebutuhan berubah, penataan ruang pun perlu ikut disesuaikan.
Tanda berikutnya muncul ketika ada furnitur yang tidak lagi digunakan. Perabot memakan ruang, sehingga jika fungsinya hilang, perlu dipertimbangkan ulang keberadaannya. Ruang makan formal, misalnya, kini sering menjadi area paling jarang dipakai. Alih-alih dibiarkan kosong, ruang tersebut bisa diubah menjadi perpustakaan kecil, ruang kerja, atau area berkumpul keluarga.
Perubahan gaya hidup juga kerap menuntut penataan ulang. Susunan furnitur yang pas saat rumah ramai penghuni bisa terasa berlebihan ketika anggota keluarga berkurang. Sebaliknya, kehadiran anak kecil mungkin menuntut ruang lebih lega untuk bergerak dan bermain.
Terakhir, tata letak furnitur yang tidak sejalan dengan arsitektur ruang menjadi sinyal penting. Jalur lalu lintas yang sempit, pandangan yang terhalang, atau titik fokus ruangan yang bergeser menunjukkan ketidaksinkronan antara desain ruang dan cara penghuni menggunakannya. Pada titik ini, merombak tata letak bukan sekadar pilihan estetika, melainkan kebutuhan agar ruang kembali berfungsi optimal.
Menata ulang furnitur bukan berarti harus membeli perabot baru. Terkadang, perubahan kecil dalam susunan sudah cukup untuk membuat rumah terasa lebih lega, aman, dan selaras dengan kehidupan penghuninya. (***)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO