Buka konten ini

KAPAL pompong KM Safira Jaya tenggelam di perairan arah utara sekitar 40 mil dari Pulau Tambelan, Kabupaten Bintan, Minggu (4/1) dini hari.
Beruntung, lima nelayan yang berada di atas kapal berhasil selamat. Mereka adalah Muli Warman, 40 selaku nakhoda, serta kru kapal Iwan Kusnadi, 36, El, Wahyu, dan Fadhil, 44.
Kasi Humas Polres Bintan, AKP H. P. Bako, mengatakan tenggelamnya kapal diduga disebabkan kebocoran pada lambung kapal yang sudah berusia tua.
“Diduga kapal sudah dalam kondisi bocor saat kejadian. Kemungkinan karena faktor usia kapal,” kata Bako, Selasa (6/1).
Ia menjelaskan, kebocoran baru disadari ketika salah satu kru mendapati bagian depan geladak kapal sudah dipenuhi air.
“Mereka sempat berusaha menimba air, tetapi tidak sanggup lagi,” ujarnya.
Peristiwa bermula saat KM Safira Jaya berangkat melaut pada Sabtu (3/1) sekitar pukul 07.00 WIB. Setelah memancing di titik awal hingga pukul 12.00 WIB, kru kapal memutuskan bergeser sekitar 17 mil untuk mencari umpan karena persediaan habis sekitar pukul 18.30 WIB.
Sekitar pukul 22.00 WIB, kapal tiba di lokasi rumpon untuk mengambil umpan. Usai mendapatkan umpan, kapal kembali menuju titik awal memancing.
Namun, di tengah perjalanan, salah satu kru bernama El merasakan kejanggalan pada kapal sekitar pukul 00.30 WIB, Minggu (4/1). Setelah diperiksa, lambung kapal diketahui sudah dipenuhi air.
Para kru sempat menguras air dan membuang barang-barang untuk meringankan kapal, namun upaya tersebut tidak berhasil.
Kru kemudian mengeluarkan fiber besar berkapasitas sekitar satu ton. Tiga orang, yakni Muli Warman, Iwan Kusnadi, dan Wahyu, berhasil naik ke fiber tersebut.
Sementara dua kru lainnya, Fadhil dan El, tidak sempat naik karena angin kencang dan gelombang tinggi. Keduanya kemudian melompat dan bertahan di tutup fiber saat kapal tenggelam.
“Tiga orang yang berada di fiber berhasil diselamatkan nelayan lain pada Minggu dini hari. Sedangkan dua korban yang berada di tutup fiber ditemukan pada Senin pagi,” jelas Bako.
Akibat kejadian tersebut, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp400 juta.
Bako mengimbau para nelayan untuk selalu memastikan kelayakan kapal serta kondisi cuaca sebelum melaut guna menghindari kejadian serupa.
“Pastikan kapal dalam kondisi layak dan cuaca aman sebelum berlayar,” pungkasnya. (***)
Reporter : Slamet Nofasusanto
Editor : GUSTIA BENNY