Buka konten ini

TAK semua tren desain dapur layak diikuti. Sejumlah desainer interior di Amerika Serikat justru menilai beberapa elemen yang tengah populer lebih banyak menghadirkan masalah ketimbang kemudahan. Alih-alih membantu aktivitas memasak, desain-desain ini kerap menyulitkan pengguna dalam keseharian.
Salah satu kesalahan paling umum adalah mengabaikan konsep cooking triangle hubungan ideal antara kompor, wastafel, dan lemari es. Ketika jaraknya terlalu berjauhan demi mengejar estetika atau simetri, dapur justru menjadi tidak efisien. Aktivitas memasak berubah menjadi lalu-lalang yang melelahkan dan berisiko, terutama jika harus membawa peralatan panas.
Kesalahan lain muncul ketika dapur tidak dirancang sesuai gaya hidup penggunanya. Kebutuhan tiap orang berbeda termasuk kebiasaan sederhana seperti tangan dominan. Tata letak yang mengabaikan aspek personal semacam ini akan terasa janggal meski tampil menawan.
Desain kabinet yang terlalu sederhana juga kerap menjadi jebakan. Lemari tanpa sistem penyimpanan cerdas membuat aktivitas memasak lebih lambat dan tidak ramah bagi tubuh. Padahal, laci tarik, rak bumbu tersembunyi, hingga penyimpanan geser dapat meningkatkan efisiensi sekaligus kenyamanan.
Pulau dapur ganda atau pulau dapur yang dilengkapi wastafel turut menuai kritik. Alih-alih membantu, kehadirannya sering memecah alur kerja dan mengacaukan fungsi ruang. Wastafel di tengah dapur bahkan dianggap merusak titik fokus visual karena tak pernah lepas dari spons, sabun, dan piring kotor.
Elemen lain yang dinilai lebih simbolis ketimbang fungsional adalah pot filler, rak terbuka di dekat kompor, dan gantungan panci dekoratif. Meski tampak modern, fitur-fitur ini memerlukan perawatan ekstra, mudah kotor, serta kurang relevan dengan kebutuhan memasak sehari-hari.
Masalah klasik lain adalah pencahayaan yang buruk. Lampu gantung memang indah, tetapi tanpa pencahayaan tugas yang memadai, dapur akan terasa redup dan menyulitkan proses menyiapkan makanan.
Terakhir, kabinet tambahan di atas meja dapur sering dianggap solusi penyimpanan instan. Namun, pilihan ini kerap mengorbankan ruang kerja yang justru lebih dibutuhkan, terutama di dapur berukuran terbatas.
Pada akhirnya, dapur bukan sekadar ruang pamer tren desain. Fungsionalitas, kenyamanan, dan kesesuaian dengan kebiasaan penghuni tetap menjadi kunci agar dapur benar-benar bisa digunakan bukan hanya dipandang. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO