Buka konten ini

Dentum meriam dari kapal perang, menjadi saksi sejarah kekuatan maritim masa lalu. Pada 6 Januari 1784, perairan Tanjungpinang-Pulau Penyengat menjadi panggung kapal perang dan pejuang, mengusung misi mempertahankan kedaulatan.
DI balik angin yang berhembus di tepi perairan Tanjungpinang, Kepulauan Riau, tersimpan kisah heroik tentang sebuah kapal perang legendaris. Kisah heroik kapal perang yang menjadi armada tempur andalan Raja Haji Fisabilillah, Pahlawan Nasional yang masyhur melawan kolonial pada abad ke-18.
Meskipun telah berlalu, namun kisah kapal perang legendaris bernama Bulang Linggi itu, tetap hidup dalam ingatan. Ia menjadi simbol kejayaan dan kekuatan maritim serta semangat yang tidak pernah padam.
Bulang Linggi bukanlah kapal biasa. Ia diyakini sebagai kapal berukuran cukup besar. Dirancang khusus untuk pertempuran laut dan urusan diplomatik kerajaan.
Badannya kokoh, menggunakan kayu pilihan dari hutan-hutan Sumatra dengan bentuk lambung ramping namun kuat menembus gelombang.
Kapal perang legendaris ini dilengkapi layar besar dan beberapa dayung. Kapal jenis penjajap (jenis pertempuran laut) ini juga dipersenjatai meriam dan senjata tradisional.
Bulang Linggi dipercaya mampu mengangkut puluhan pasukan tempur pilihan Raja Haji Fisabilillah. Mengangkut amunisi untuk menyerang kapal musuh yang menguasai jalur perdagangan strategis di Selat Melaka.
Selain itu, kapal Bulang Linggi yang telah digunakan Raja Haji Fisabilillah sejak 1753, digunakan untuk patroli keliling menjaga keutuhan wilayah Kesultanan Riau Lingga masa lalu.
Dalam catatan sejarah, kapal ini juga menjadi kendaraan atau kapal utama Raja Haji Fisabilillah untuk keliling berlayar ke seantero negeri di Nusantara.
Menjadi kapal pulang balik dari Riau (Tanjungpinang) ke Linggi yang terletak di sebelah utara Malaka, tempat tinggal Yang Dipertuan Muda Riau IlI Daeng Kamboja.
Kapal heroik ini bukan hanya sebagai kendaraan laut, tetapi juga sebagai armada tempur tangguh dan simbol kedaulatan Kesultanan Riau Lingga.
Menurut Peneliti Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dedi Arman, perahu yang diubah menjadi jenis kapal penjajap ini, merupakan pemberian Kesultanan Asahan kepada Raja Haji Fisabilillah.
”Bulang Linggi disebut dalam naskah Hikayat Negeri Johor dan Tuhfat Al Nafis. Kapal itu dibuat di Asahan. Digunakan Raja Haji Fisabilillah untuk pertempuran laut dan urusan diplomatik,” ungkap Dedi, Senin (5/1).
Terkenal sebagai panglima perang ulung, Raja Haji Fisabilillah memanfaatkan kapal Bulang Linggi tersebut, sebagai ujung tombak pertempuran dan menyusun strategi perang.
Dalam setiap pelayaran, kapal Bulang Linggi menjadi pusat komando. Di atas geladaknya, taktik perang dirancang, doa dipanjatkan demi mempertahankan kedaulatan dari penjajahan kolonial.
Dedi menjelaskan, dalam kitab Tuhfat Al Nafis gubahan Raja Ali Haji, kapal perang legendaris tersebut, digunakan Raja Haji Fisabilillah pada Perang Linggi, bertempur melawan kolonial.
Dari kapal ini jugalah berbagai serangan mendadak dilakukan pasukan tempur Raja Haji Fisabilillah, terhadap pos-pos musuh yang berbasis di Melaka hingga kawasan sekitarnya.
Dalam Perang Linggi itu, Raja Haji Fisabilillah juga mendapat luka yang tidak dapat ia hindari. Panglima perang itu terkena sangkur senjata musuh. Namun ia tetap bertahan.
Meskipun demikian, kehebatan Raja Haji Fisabilillah dalam menyusun strategi dan berperang juga semakin terasah, setelah mengikuti Perang Linggi.
Menurut Dedi, kapal ini juga diyakini digunakan oleh Raja Haji Fisabilillah dalam pertempuran heroik pada 6 Januari 1784 di perairan Tanjungpinang-Pulau Penyengat.
Dalam perang itu, pasukan Raja Haji Fisabilillah berhasil menghancurkan kapal-kapal kolonial. Meraih kemenangan dan berhasil memukul mundur pasukan musuh yang tersisa dari Tanjungpinang.
”Pertempuran heroik Perang Riau mencapai puncaknya pada 6 Januari 1784. Tanggal itu kemudian diputuskan menjadi Hari Jadi Kota Tanjungpinang,” jelas Dedi.
Simbol Kejayaan Maritim dan Warisan Berharga
Lebih dari sebuah kapal, Bulang Linggi adalah lambang dan simbol perlawanan. Kapal ini mewakili kecerdikan strategi perang, keberanian dan kejayaan maritim masa lalu. Kapal ini melambangkan arti semangat jihad Raja Haji Fisabilillah.
Setelah meraih kemenangan di Tanjungpinang, sang panglima memutuskan untuk menyerbu basis militer kolonial di Melaka, pada 13 Februari 1784.
”Sumber sejarah menyebut, dari Tanjungpinang Raja Haji Fisabilillah menggunakan kapal Bulang Linggi untuk menyerang basis kolonial di Melaka pada Februari 1784,” sebut Dedi.
Pada perang dahsyat itu, Raja Haji Fisabilillah dan pasukan berhasil menggempur basis militer kolonial di Melaka. Namun akhirnya, panglima perang itu syahid di Teluk Ketapang, Melaka pada 18 Juni 1784.
”Setelah pertempuran itu, Bulang Linggi hilang dari catatan sejarah. Tidak ada yang tahu bagaimana kondisi kapal setelah Raja Haji Fisabilillah gugur,” kata Dedi.
Meskipun hilang tidak berjejak, namum semangat itu tidak pernah tenggelam. Meski zaman berubah, Bulang Linggi tetap berlayar menjadi warisan berharga bagi bangsa. Meskipun penampakan fisik Bulang Linggi kini tidak lagi dapat ditemukan utuh, namun jejak masa kejayaannya diyakini masih hidup dalam ingatan.
Kini, Bulang Linggi diabadikan dalam replika. Salah satunya di Jalan Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, berdiri replika kapal perang legendaris Bulang Linggi.
Sebuah replika yang berdiri kokoh dan tampak gagah di media jalan, dilengkapi dengan dua layar, rumah di bagian buritan, tujuh perisai serta bendera hula-hula.
Replika ini dibangun untuk memperingati dan memperkenalkan kembali kapal Bulang Linggi, sebuah kapal perang yang tercatat dalam historis.
Terakhir namun tidak kalah penting, kisah heroik kapal Bulang Linggi ini, menjadi inspirasi generasi muda mengenal sejarah dan kejayaan maritim Tanjungpinang masa lalu.
”Yang jelas, replika Bulang Linggi dibangun ini untuk mengenalkan perjuangan heroik Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah kepada generasi muda Tanjungpinang,” tutup Dedi. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RATNA IRTATIK