Buka konten ini

MANCHESTER (BP) – Manchester United resmi memecat pelatih kepala Ruben Amorim, Senin (5/1), seperti dilansir dari channelnewsasia.com. Keputusan ini menutup masa kepemimpinannya selama 14 bulan bersama Setan Merah, sekaligus menandai berakhirnya satu lagi episode gagal dalam upaya klub bangkit pada era pasca-Alex Ferguson.

Dalam keterangan resminya, manajemen United menyebut keputusan pemecatan diambil dengan berat hati. Dengan posisi tim yang masih tertahan di peringkat keenam Liga Primer Inggris, perubahan di kursi pelatih dinilai sebagai langkah tepat untuk membuka peluang finis setinggi mungkin pada akhir musim. Klub juga menyampaikan terima kasih atas kontribusi Amorim serta mendoakan yang terbaik bagi masa depannya.
Amorim ditunjuk pada November 2024 menggantikan Erik ten Hag—yang sebelumnya juga didepak. Namun ia gagal memikat suporter. Kekukuhannya mempertahankan formasi 3-4-3 di tengah rentetan hasil buruk justru memantik kritik tajam.
Meski sempat membawa United melaju ke final Liga Europa pada Mei tahun lalu, performa di liga domestik jauh dari memuaskan. United mengakhiri musim lalu di peringkat ke-15 dengan 42 poin, menjadi capaian terburuk sejak musim 1989–1990, sekaligus gagal lolos ke kompetisi Eropa. Catatan itu juga menjadi perolehan poin terendah sejak tim terakhir kali terdegradasi pada musim 1973–1974.
Padahal, manajemen klub telah memberikan dukungan besar di bursa transfer. Amorim menghabiskan sekitar £200 juta untuk mendatangkan Benjamin Sesko, Matheus Cunha, Bryan Mbuemo, hingga kiper muda Senne Lammens. Namun penampilan tim tak kunjung meyakinkan. Gaya bermain United dinilai datar dan membosankan, sementara jarak dengan pemuncak klasemen Arsenal melebar hingga 17 poin.
Situasi memanas setelah hasil imbang 1-1 melawan Leeds akhir pekan lalu, yang menjadi hasil seri kedua secara beruntun melawan tim papan bawah. Dalam konferensi pers seusai laga, Amorim sempat tersulut emosi ketika ditanya masa depannya. Ia menegaskan datang ke Old Trafford sebagai manajer dengan kewenangan penuh, bukan sekadar pelatih pelaksana, serta menyebut setiap departemen di klub harus bekerja sesuai perannya.
Dalam beberapa pekan terakhir, Amorim juga mengisyaratkan ketidakpuasan terhadap campur tangan manajemen klub. Ia berdiri teguh pada sistem tiga bek—3-4-3 atau 3-4-2-1—meski desakan fleksibilitas taktik datang dari internal klub, termasuk direktur sepak bola Jason Wilcox. Pergeseran ke empat bek baru terjadi pada akhir Desember, itupun karena tekanan hasil, cedera pemain, serta absennya sejumlah pilar akibat Piala Afrika.
Pernyataannya yang menyebut formasi 3-4-3 membutuhkan “banyak uang” di bursa transfer kian memicu sorotan. Serangkaian konferensi persnya yang emosional bahkan sempat membuatnya menyebut United “mungkin tim terburuk dalam sejarah klub” setelah kalah 1-3 dari Brighton musim lalu.
United sejatinya sudah menghabiskan sekitar Rp 4,89 triliun untuk memperbaiki skuat. Namun hasil tak kunjung sejalan dengan ekspektasi, termasuk kekalahan memalukan dari klub League Two, Grimsby Town, di Piala Liga pada Agustus lalu.
Kepercayaan manajemen pun diyakini menipis. Amorim menolak menjawab tegas soal dukungan dewan dan berulang kali menegaskan dirinya manajer, bukan sekadar pelatih. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO