Buka konten ini

MASYARAKAT mengeluhkan lonjakan harga bahan pangan yang dinilai memberatkan. Jika sebelumnya aneka lauk, sayuran, cabai, dan gula pasir yang mahal, kini giliran harga beras yang naik signifikan.
Kenaikan terlihat jelas pada sejumlah merek beras yang sebelumnya tergolong terjangkau. Beras merek Gonggong, misalnya, sebelumnya dijual Rp110 ribu per karung isi 10 kilogram (kg) atau sekitar Rp11.000 per kg, kini harganya melonjak menjadi Rp128 ribu per karung atau naik Rp18 ribu.
Begitu pula beras merek Harumas kemasan 5 kg, yang sebelumnya berkisar Rp76–78 ribu, kini mencapai Rp80 ribu per kemasan. Lonjakan harga ini semakin memberatkan rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada stabilitas harga kebutuhan pokok.
Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Kepri akan mengecek kebenaran informasi tersebut. Direktur Reskrimsus Polda Kepri, Kombes Silvester Simamora menegaskan, pihaknya akan memastikan apakah kenaikan harga di lapangan sesuai data dan ketentuan yang berlaku.
“Nanti kita cek dulu ya,” ujar Silvester, Senin (4/1).
Ia menegaskan, kepolisian tidak memiliki kewenangan mengatur harga pasar. Namun pengawasan tetap dilakukan untuk memastikan tidak terjadi pelanggaran, seperti permainan harga atau lonjakan tidak wajar. “Yang salah itu kalau kami mengatur harga. Sepanjang ini, kami jalankan proses pemantauan harga pangan,” jelasnya.
Menurut Silvester, sejumlah komoditas pangan memang mengalami kenaikan, terutama pasca-Natal dan menjelang Ramadan. Kenaikan ini turut berdampak pada harga daging dan beras. Ditkrimsus Polda Kepri akan terus memantau harga di pasar, termasuk memastikan kesesuaiannya dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Nanti kami catat dan pantau, apakah harga masih akan turun atau bagaimana. Kami upayakan agar mengikuti HET,” katanya.
Selain itu, pihaknya akan turun langsung ke pasar untuk melihat kondisi riil dan mencari solusi agar masyarakat tetap terlayani serta harga tidak melonjak berlebihan.
“Ini agar masyarakat juga terlayani dan harga tidak berlebihan,” tegas Silvester.
Pantauan di Batam menunjukkan, harga beras termurah saat ini sekitar Rp13.500 per kg, sebelumnya masih ditemukan di kisaran Rp11.500 per kg.
Rahma, seorang ibu rumah tangga, mengaku harus menambah anggaran belanja. Beras kualitas medium rata-rata di atas Rp13.000 per kg, sedangkan beras premium mencapai Rp16.500 per kg.
Dampak kenaikan harga juga dirasakan pelaku usaha kecil. Sari, pemilik warung makan di Batam Center, mengatakan biaya operasional ikut meningkat.
“Kalau harga beras naik, kami serba salah. Menaikkan harga takut pembeli sepi, tapi kalau tidak, untung hampir tidak ada,” ujarnya.
Sementara itu, Faisal, karyawan swalayan di Nongsa, menyebut kenaikan beras dalam sebulan terakhir cukup signifikan, sekitar Rp1.500–3.000 per kg, dan sudah terjadi tiga kali. Meski demikian, ia menilai daya beli masyarakat masih relatif bertahan karena beras merupakan kebutuhan pokok.
Disperindag Batam Klaim Terkendali
Sementara itu, Kabid Perdagangan Disperindag Batam, Wahyu Daryatin, membenarkan kenaikan tersebut, meski beberapa komoditas mulai menunjukkan tren penurunan.
“Cabai merah sempat menyentuh Rp50 ribu per kg, tetapi per Jumat lalu mulai turun. Cabai hijau kini Rp85 ribu per kg, sebelumnya Rp100 ribu,” kata Wahyu, Senin (5/1).
Harga ayam potong masih tinggi, sekitar Rp40 ribu per kg, dan fenomena ini terjadi hampir merata di seluruh Indonesia. Faktor utama, kata Wahyu, adalah kondisi akhir tahun dan cuaca.
Tidak semua komoditas naik. Harga telur, misalnya, mulai menurun. Pemerintah daerah terus memantau dan berkoordinasi dengan distributor untuk menjaga stabilitas harga.
Menjelang Ramadan yang diperkirakan jatuh akhir Februari, Disperindag memastikan stok bahan pokok aman. “Kami punya 85 anggota distributor. Stok beras, gula, minyak goreng, dan lainnya dijamin aman hingga Lebaran,” ujar Wahyu.
Distribusi dirancang untuk kebutuhan hingga tiga bulan ke depan, dengan koordinasi pemasok utama dari Sumatera Utara.
“Kalau harga di Medan naik, dampaknya terasa di Batam. Namun sejauh ini pasokan masih terkendali,” tambahnya. (***)
Reporter : YASHINTA
Editor : RATNA IRTATIK