Buka konten ini
TOKYO (BP) – Bank of Japan (BoJ) kembali mengisyaratkan kelanjutan kebijakan pengetatan moneter. Gubernur BoJ Kazuo Ueda menegaskan, kenaikan suku bunga masih akan berlanjut apabila kinerja ekonomi dan inflasi bergerak sejalan dengan proyeksi bank sentral. Pernyataan tersebut langsung memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ke level tertinggi dalam hampir 30 tahun.
Seperti dikutip Reuters, Senin (5/1), Ueda menyampaikan bahwa ekonomi Jepang sepanjang tahun lalu tetap menunjukkan pemulihan secara bertahap, meskipun tekanan terhadap laba korporasi sempat muncul akibat kenaikan tarif impor Amerika Serikat.
Ueda menilai, tren kenaikan upah dan inflasi ke depan berpotensi berlangsung secara moderat dan saling menguatkan. Kondisi tersebut, menurutnya, membuka ruang bagi penyesuaian lebih lanjut terhadap kebijakan moneter.
“Penyesuaian tingkat dukungan moneter diperlukan agar perekonomian dapat bergerak menuju pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya dalam pidato di hadapan kalangan perbankan Jepang.
Sebelumnya, BoJ telah menaikkan suku bunga acuannya ke level 0,75 persen, tertinggi dalam tiga dekade, dari posisi sebelumnya 0,5 persen. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengakhiri periode panjang kebijakan ultra-longgar dan suku bunga mendekati nol.
Pelaku pasar kini menaruh perhatian pada laporan proyeksi kuartalan BoJ yang akan diumumkan dalam rapat kebijakan pada 22–23 Januari mendatang. Dokumen tersebut dinilai penting untuk mencermati pandangan bank sentral terhadap tekanan inflasi, terutama yang dipicu oleh pelemahan yen yang masih berlanjut.
Di pasar valuta asing, dolar AS pada perdagangan Senin (5/1) menguat 0,2 persen ke level 157,08 yen, setelah sempat menyentuh 157,255 yen, tertinggi sejak 22 Desember.
Ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan turut mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang. Yield obligasi tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 2,125 persen, level tertinggi sejak Februari 1999. Sementara itu, yield obligasi dua tahun meningkat 2,5 basis poin ke 1,195 persen, tertinggi sejak Agustus 1996.
Analis strategi obligasi senior Okasan Securities, Naoya Hasegawa, menilai pergerakan tersebut mencerminkan kekhawatiran investor bahwa suku bunga puncak BoJ berpotensi melampaui ekspektasi pasar di kisaran 1,5 persen, seiring pelemahan yen yang belum mereda.
Kenaikan imbal hasil juga terjadi di berbagai tenor lainnya. Yield obligasi lima tahun naik ke 1,6 persen, tertinggi sejak Juni 2007. Obligasi tenor 20 tahun meningkat ke 3,305 persen. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO