Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November 2025 memberikan dampak nyata terhadap dinamika harga kebutuhan pokok. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tiga provinsi di Sumatera yang terdampak bencana tersebut masuk dalam jajaran daerah dengan tingkat inflasi tertinggi secara nasional pada Desember 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa secara bulanan seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi. Namun, lonjakan paling tinggi terjadi di Provinsi Aceh dengan inflasi mencapai 3,60 persen.
“Jika dilihat dari sisi kewilayahan, semua provinsi mengalami inflasi bulanan. Tingkat inflasi tertinggi tercatat di Aceh,” kata Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/1).
BPS juga menyoroti secara khusus kondisi tiga provinsi yang terdampak bencana
hidrometeorologi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ketiganya tercatat berbalik mengalami inflasi pada Desember 2025, setelah sebelumnya mencatat deflasi pada November 2025.
Menurut Pudji, ketiga provinsi tersebut masuk dalam kelompok wilayah dengan inflasi tertinggi di Indonesia. Kenaikan harga terutama dipicu oleh terganggunya distribusi dan pasokan sejumlah komoditas akibat dampak bencana.
“Inflasi di wilayah-wilayah tersebut dipengaruhi oleh naiknya harga komoditas yang terdampak langsung bencana hidrometeorologi,” ujarnya.
Secara umum, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor utama inflasi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Meski demikian, komoditas penyebab kenaikan harga berbeda di masing-masing daerah.
Di Aceh, inflasi didorong oleh meningkatnya harga beras. Sementara di Sumatera Utara, lonjakan harga cabai rawit menjadi pemicu utama. Adapun di Sumatera Barat, kenaikan harga bawang merah berperan besar terhadap inflasi.
Sebagai informasi, secara nasional inflasi pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,64 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,22 pada November 2025 menjadi 109,92. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO