Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pengenaan tarif resiprokal ekspor ke Amerika Serikat (AS) sebesar 19 persen dinilai menjadi beban berat bagi industri alas kaki nasional. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) pun mendorong pemerintah untuk melakukan negosiasi agar tarif tersebut dapat ditekan hingga 0 persen.
Direktur Eksekutif Aprisindo Yoseph Billie Dosiwoda menyampaikan, sebagai sektor padat karya, industri alas kaki membutuhkan tarif ekspor yang jauh lebih rendah agar mampu bersaing dengan negara produsen lain seperti Vietnam, Kamboja, Pakistan, Bangladesh, India, maupun China. Menurutnya, tarif ideal ke pasar AS seharusnya 0 persen atau setidaknya jauh di bawah angka 19 persen.
Desakan tersebut semakin menguat seiring kabar bahwa perjanjian tarif resiprokal Indonesia–AS tengah menuju tahap final. Yoseph menilai, sektor manufaktur padat karya masih menghadapi tarif yang relatif tinggi. Ia menegaskan bahwa sejak pemberlakuan tarif 19 persen, tekanan terhadap industri alas kaki sudah sangat dirasakan.
Kinerja Tertekan
Dampak kebijakan tersebut tercermin pada kinerja ekspor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor alas kaki Indonesia ke AS pada periode Agustus–September 2025 tercatat turun sebesar 23,14 persen. Yoseph memperingatkan, penurunan pesanan akan berimbas langsung pada produktivitas dan penyerapan tenaga kerja. Risiko pemutusan hubungan kerja pun semakin besar, sebagaimana yang sebelumnya terjadi di sektor tekstil.
Sementara itu, upaya memperluas pasar melalui perjanjian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang menjanjikan tarif 0 persen masih menunggu proses ratifikasi. Perjanjian tersebut diperkirakan baru rampung pada kuartal I-2027. Kondisi ini membuat pasar AS masih menjadi tujuan utama ekspor alas kaki dalam jangka pendek.
“Target kami jelas, tarif ekspor ke AS harus lebih rendah dibanding negara pesaing agar produktivitas industri dan serapan tenaga kerja dapat terjaga,” tutup Yoseph. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO