Buka konten ini

Bertempat Tinggal di Kabupaten Karimun
KARIMUN ibarat gadis jelita yang memesona, begitu kalimat yang muncul tatkala pelaut-pelaut asing menjejakkan kakinya di daerah ini. Jauh ketika negeri Karimun berada dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Johor-Riau-Lingga, potensi yang ada di Karimun telah banyak diminati oleh para saudagar asing dan lokal yang mau mengambil keuntungan secara ekonomi apabila dapat mengelolanya dengan baik. Tersebutlah misalnya kandungan bijih timah, pasir dan bebatuan di dalamnya yang akan memberikan manfaat besar jika dilakukan eksploitasi yang lebih mendalam. Belum lagi kawasan ini merupakan daerah yang sangat strategis, berdekatan dengan pulau Tumasek (kini Singapura) dan berada di ujung bagian laut daratan benua Asia. Letak geogarfis yang juga menguntungkan bagi Karimun adalah karena berada di Selat Melaka, yang sejak dahulu memang merupakan salah satu jalur pelayaran khususnya perdagangan, baik untuk benua Eropa maupun kawasan serantau lainnya.
Dalam kurun waktu 1722-1784, pada masa kejayaan Raja Haji Fisabilillah ibni Almarhum Daeng Chelak, Pulau Karimun dan pulau-pulau lain di sekitarnya telah tercatat secara administratif sebagai kawasan yang termasuk di bawah kekuasaan Kesultanan Johor-Riau-Lingga serta menjadi bagian penting sebagai basis angkatan laut dan wilayah strategis, yang ketika itu selain memiliki kekayaan hasil tambang juga menyumbangkan hasil perkebunan seperti gambir. Eksistensi Pulau Karimun dari masa ke masa telah memainkan peranan yang penting dan diperhitungkan sebagai kawasan ekonomi dengan pertumbuhan yang cenderung tinggi. Sebagai daerah yang menjadi pintu masuk di kawasan serantau, Karimun juga sejak dulu menjadi penghubung untuk jalur menuju ke Pulau Sumatera.
Situs peninggalan kebesaran dan kejayaan masa lalu bagi masayarakat Karimun masih kokoh dan tegak berdiri hingga saat ini serta merupakan bagian dari kebanggaan masyarakat sebagai tanda pengingat bahwa suatu masa dulu negeri ini telah menunjukkan betapa besarnya potensi yang dimilikinya.
Kisah Inspiratif dari Negeri Jiran
Pada tahun 1965, seorang Perdana Menteri menangis di layar televisi nasional, namanya Lee Kuan Yew. Hari itu Singapura “dipaksa lepas” dari Malaysia akibat ketegangan politik, ekonomi, dan rasial yang tidak dapat terselesaikan, terutama asbab perbedaan ideologi antara pemerintah federal Malaysia (UMNO) yang mendukung penuh kebijakan Melayu dan Partai Aksi Rakyat (PAP) di Singapura yang mengusung kesetaraan ras.
Negara kecil ini tanpa tentara, tanpa pangan, tanpa air, tanpa minyak, separuh airnya dari Malaysia, 90% makanannya diimpor lewat sebuah jembatan, sedikit saja Malaysia menutup keran, Singapura akan tamat. Saat itu Singapura bukan kota maju, 75% rakyatnya hidup di gubuk, tanpa toilet dan tanpa air bersih. Kerusuhan ras Melayu-Tiong Hua pecah, pertumpahan darah terjadi di mana-mana. Namun Lee tahu satu hal, kalau ia gagal maka negara ini akan lenyap dari peta. Lee menghilang selama enam minggu, tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, tapi saat kembali ia berubah menjadi dingin dan kejam pada kenyataan.
Pertama dunia harus mengakui Singapura, dalam sebulan ia membawa negaranya masuk PBB. Kedua bertahan hidup, ia menciptakan wajib militer, melatih tentara secara rahasia. Pesannya jelas, kalau kamu tidak bisa membela diri, maka tak akan ada yang melakukannya. Ketiga bereskan racun dari dalam, korupsi dibabat habis, menteripun dipencara, tidak ada pengecualian. Lee mengatur ras, agama dan bahasa, hal ini bukan untuk menyenangkan rakyat, tapi untuk mencegah Singapura saling membunuh.
Lalu di bidang ekonomi, Lee membuang idealisme, ia berkata kami tidak butuh nasionalisme, kami butuh pekerjaan, pajak yang rendah, stabilitas mutlak, investor asing masuk dan pabrik berdiri. Rakyat dilatih jadi teknisi dan insyiur profesional. Selanjutnya kawasan kumuh diratakan, rakyat dipindahkan ke rumah susun layak, bukan diberi bantuan, tapi dipaksa mandiri, displin jadi hukum hidup. Aturan disusun dari yang sangat sepele sampai kepada hal yang sangat fundamental, permen karet dilarang, buang sampah didenda, narkoba dihukum mati, kebebasan dikorbankan, tapi negara hidup.
Waktu terus berjalan, puluhan tahun kemudian Singapura menjadi lebih kaya dari negara yang dulu memaksanya lepas. Negara tanpa sumber daya dapat mengalahkan negara yang punya segalanya. Lee Kuan Yew wafat pada 2015, sekitar dua juta orang berdiri di tengah hujan demi mengantarkan pria yang dulu pernah menangis di layar televisi nasional. Bukan karena ia baik tapi ia menyelamatkan negaranya dari kematian. Agaknya memang telah menjadi garis sejarah, di mana suatu ketika dulu Raffles menemukan sebuah pulau, yang hanya dihuni oleh pemukiman kecil komunitas Melayu, ia mendirikan pos dagang milik Inggris setelah terlebih dahulu meminta izin kepada Temenggung Abdul Rahman. Jika kita membaca rekam jejak itu, bagaimana sebuah pulau kecil dengan penduduk kurang dari seribu jiwa pada 1819 yang saat ini muncul sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan industri di dunia.
Kabupaten Karimun dan Melaju dalam Harmoni
Pada 2026, Kabupaten Karimun memasuki babak baru dalam menapaki pembangunan. Kabupaten yang berjuluk Negeri Berazam ini terus berbenah dan merancang fase demi fase pembangunan untuk menuju Karimun yang Maju, Sejahtera dan Berbudaya.
Adalah Bupati Iskandarsyah dan Wakil Bupati Rocky Marciano Bawole yang melakukan peluncuran logo city branding yang merupakan bagian dari langkah strategis Pemerintah Kabupaten Karimun memperkuat citra daerah, baik dari tingkat nasional maupun internasional. Identitas visual tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya tarik Karimun sebagai daerah tujuan investasi dan pariwisata.
Branding ini juga memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik terhadap suatu wilayah, terlebih Karimun memang memiliki posisi georafis yang strategis di jalur pelayaran internasional. Logo city branding dengan tagline “Karimun Melaju dalam Harmoni” diharapkan dapat memperkuat posisi Karimun untuk menghadapi tantangan pembangunan ke depan.
Penyikapi beratnya persoalan keuangan pemerintah secara nasional, para pemimpin di dearah dipaksa untuk berbuat sesuatu yang nyata untuk memastikan roda pemerintahan dapat berjalan sesuai rencana, sehingga target yang akan dicapai dapat dihitung secara komprehensip dan terukur.
Banyak aspek yang menjadi indikator keberhasilan pembangunan sesuatu daerah. Dalam bidang ekonomi faktor tersebut bisa berupa pertumbuhan PDB, pendapatan perkapita, rendahnya angka pengangguran dan kemiskinan, pada bidang sosial dapat berupa kesehatan, pendidikan serta angka harapan hidup. Indikator lain yang tidak kalah penting adalah aspek pembangunan infrastruktur serta keberlanjutan mengawal lingkungan. Pemerataan dan pertumbuhan juga suatu keniscayaan yang perlu menjadi perhatian dan komitmen bersama.
Pencapaian semua harapan di atas memerlukan sentuhan tangan dingin stakeholder dan semua pihak di dalamnya.
Kabupaten Karimun Terus Berbenah
Daerah hasil pemekaran tahun 1999 ini memiliki lebih kurang 248 pulau besar dan kecil, di mana sekitar 80-an pulau yang berpenghuni dan terus menunggu untuk disentuh pembangunan dalam periode lima tahun ke depan. Dengan total APBD sekitar 1,3 triliun, masyarakat menanti kerja keras dan karya nyata.
Opportunity selalu ada dan terbuka lebar, namun tantangan juga pasti tidak ringan dan jangan dianggap remeh. Peluang Kabupaten Karimun untuk terus melaju dalam membangun bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai.
Jika kita bercermin dari masa lalu, semua telah dimulai berabad-abad silam. Karimun memiliki segalanya, letak geografis yang strategis dan potensi yang terkandung juga sangat banyak, Karimun mewarisi kegemilangan dan keberhasilan masa lalu. Di sisi lain, Karimun juga bisa belajar dari kisah inspiratif sebagaimana narasi di atas, walaupun beda karaktristik, namun ada kesamaan dari sisi keinginan dan strategi.
Republik dengan pulau kecil, tentunya sangat jauh berbeda dengan konsep pembangunan dalam kerangka NKRI, namun segalanya sangat mungkin terjadi. Potensi lain yang dimiliki adalah keberagaman. Masyarakat berbilang kaum ada di Karimun, mirip miniatur Indonesia, mereka hidup berdampingan secara harmoni dengan budaya Melayu sebagai sebuah bangsa yang bermartabat, bukan sekadar adagium dan simbol-simbol tanpa makna atau seremonial belaka.
Dalam terminologi agama, semua komponen telah disiapkan dan dilakukan secara matang. Perencanaan, ketersediaan sumberdaya alam dan SDM penyelenggara pemerintanhan, usaha yang maksimal serta kerjasama ataupun dukungan dari semua pihak, terakhir tentunya berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Karena apapun yang dilakukan, kita harus menggiring kebiasaan tetap menunggu takdir yang menentukan, harus ada keyakinan bahwa ada Allah, Tuhan Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu dan ini tidak boleh diabaikan.
Memaknai keberhasilan bukan semata kerja keras umat manusia, namun jauh dari itu ada campur tangan Yang Maha Kuasa, Zat yang menetapkan keberhasilan dan kegagalan. (***)