Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Harga emas batangan Antam diproyeksikan kembali menguat dalam waktu dekat, seiring lonjakan harga emas global yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik internasional. Salah satu sentimen utama datang dari situasi politik Amerika Latin setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat, yang memicu gejolak di pasar keuangan global.
Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebutkan, jika harga emas dunia melonjak pada perdagangan Senin dan menyentuh level USD4.426 per troy ounce, maka harga emas di pasar domestik berpotensi naik hingga Rp2.518.000 per gram.
“Jika emas dunia meloncat ke level USD4.426, maka harga logam mulia di dalam negeri bisa diperdagangkan di kisaran Rp2.518.000 per gram,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, Minggu (4/1).
Ia menambahkan, dalam sepekan ke depan, apabila tren penguatan berlanjut dan harga emas dunia naik hingga USD4.505 per troy ounce, maka harga emas Antam berpeluang menembus level Rp2.610.000 per gram.
Menurut Ibrahim, peluang tersebut cukup besar hingga akhir pekan depan, terutama jika sentimen global masih didominasi ketidakpastian dan konflik geopolitik yang berkepanjangan.
Selain faktor geopolitik, pergerakan indeks dolar Amerika Serikat juga menjadi variabel penting. Ia mencatat indeks dolar ditutup di level 98,378 pada Sabtu pagi. Jika dolar AS mengalami pelemahan, maka harga emas berpotensi mendapatkan dorongan tambahan. Support indeks dolar disebut berada di level 98,098 dan 97,834.
Ibrahim menjelaskan, pergerakan harga emas dunia saat ini sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni dinamika politik Amerika Serikat dan eskalasi konflik global. Dari Eropa Timur, konflik Rusia–Ukraina kembali memanas setelah Ukraina melancarkan serangan drone ke wilayah Rusia, yang kemudian dibalas dengan serangan besar-besaran ke wilayah Kherson.
Situasi tersebut memperburuk konflik yang sebelumnya sempat diwarnai wacana perdamaian antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Amerika Serikat bahkan disebut siap turun tangan jika aparat Iran melakukan tindakan represif terhadap demonstran. Kondisi ini semakin mempertebal sentimen risk-off di pasar global dan mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO