Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Memasuki awal 2026, pergerakan pasar saham global cenderung berada di jalur positif, meski tingkat volatilitas masih relatif tinggi. Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai, tren penguatan masih berpotensi berlanjut berkat dukungan faktor-faktor fundamental, baik dari kebijakan moneter maupun kinerja perusahaan.
Di Amerika Serikat, Hans memperkirakan pasar saham tetap melanjutkan reli sepanjang 2026, meski dengan dinamika pergerakan yang lebih berfluktuasi dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah faktor disebut menopang valuasi saham, antara lain pertumbuhan laba korporasi, arah kebijakan Federal Reserve yang semakin longgar, serta stimulus fiskal yang masih bersifat ekspansif.
Hans juga menyoroti perubahan struktur pertumbuhan laba di AS. Jika sebelumnya didominasi emiten berkapitalisasi besar, pada 2026 kontribusi laba diproyeksikan mulai menyebar ke lebih banyak sektor dan perusahaan. Kondisi ini dinilai memperkuat fondasi pasar secara lebih seimbang. Dari sisi kebijakan moneter, The Fed diperkirakan menuju tingkat suku bunga netral dengan peluang dua kali penurunan suku bunga, masing-masing pada Maret dan Juni.
Di kawasan Eropa, bursa saham menunjukkan performa yang solid. Sepanjang 2025, indeks-indeks utama Eropa mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 2021. Capaian tersebut didorong oleh penurunan suku bunga, rencana ekspansi fiskal Jerman, serta pergeseran strategi investor yang mulai mendiversifikasi portofolio dari saham teknologi AS yang dinilai sudah relatif mahal. Hans memperkirakan tren positif bursa Eropa masih berlanjut hingga 2026.
Sementara itu, untuk pasar domestik, prospek saham Indonesia dinilai tetap atraktif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki peluang menguat dengan sejumlah katalis, seperti perkembangan diplomasi dagang Indonesia–AS dan kondisi ekonomi nasional yang dinilai tetap terjaga.
Dalam waktu dekat, pasar akan mencermati rilis data inflasi Indonesia yang diperkirakan berada pada level rendah serta neraca perdagangan yang diproyeksikan kembali surplus. Selain itu, data ketenagakerjaan Amerika Serikat juga akan menjadi perhatian investor.
Hans menilai IHSG berpeluang bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat, dengan area support di kisaran 8.537–8.664 dan resistance pada level 8.776–8.800. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO