Buka konten ini
WASHINGTON (BP) – Jumlah warga Amerika Serikat yang mengajukan klaim awal tunjangan pengangguran tercatat menurun menjelang akhir tahun. Meski demikian, penurunan tersebut belum cukup mencerminkan pemulihan pasar tenaga kerja karena belum diiringi peningkatan aktivitas perekrutan.
Data Kementerian Ketenagakerjaan AS menunjukkan klaim awal manfaat pengangguran turun selama dua pekan berturut-turut. Pada pekan terakhir, klaim menyusut sekitar 10 ribu menjadi 214 ribu orang. Angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom dalam survei Reuters yang memproyeksikan klaim berada di kisaran 224 ribu.
Kepala Ekonom FWDBONDS, Christopher Rupkey, menilai perekonomian AS masih bergerak pada kecepatan moderat selama perusahaan belum melakukan pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran.
Secara teoritis, penurunan klaim awal seharusnya menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan. Namun, respons pasar relatif datar. Hal ini disebabkan klaim lanjutan—yang menggambarkan jumlah pencari kerja yang belum kembali bekerja setelah masa manfaat awal berakhir—justru mengalami peningkatan.
Hingga 13 Desember, klaim lanjutan tercatat naik 38 ribu menjadi 1,923 juta orang. Kenaikan ini menandakan pasar tenaga kerja AS masih berada dalam fase tertahan. Strategi “tidak merekrut, tidak memberhentikan” yang banyak diterapkan perusahaan dinilai membatasi percepatan pertumbuhan ekonomi.
Kepala Ekonom Oxford Economics, Nancy Vanden Houten, menyebutkan bahwa klaim lanjutan mencerminkan lambatnya proses perekrutan, meski belum terlihat indikasi memburuknya kondisi pasar tenaga kerja secara tajam.
Survei persepsi konsumen juga mengindikasikan melemahnya pandangan terhadap pasar kerja, mendekati situasi awal 2021. Pada November lalu, tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,6 persen, tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan tersebut sebagian dipengaruhi faktor teknis, termasuk dampak penutupan sementara pemerintahan yang menyebabkan sebagian pekerja sektor publik kehilangan pekerjaan untuk sementara waktu. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO