Buka konten ini

Mata anak yang tampak tidak sejajar atau sesekali terlihat melenceng kerap membuat orangtua khawatir. Kondisi ini bisa menjadi tanda awal strabismus atau mata juling, gangguan yang perlu dideteksi sedini mungkin agar tidak berdampak pada penglihatan jangka panjang.

DR. dr. Feti Karfiati, Sp.M(K), M.Kes, menjelaskan lebih jauh soal kondisi ini dalam Live Instagram HalloAwalBros dengan topik “Tanda-Tanda Awal Strabismus pada Anak: Kapan Orang Tua Harus Waspada?”.
Menurut dr. Feti, mata juling pada anak bukan sekadar masalah penampilan. Jika dibiarkan hingga dewasa tanpa penanganan, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas penglihatan seumur hidup.
“Pada orang dewasa yang sudah lama mengalami mata juling, biasanya penglihatan hanya mengandalkan satu mata. Mata yang juling tidak digunakan untuk melihat, sehingga penglihatan menjadi dua dimensi,” kata Dokter Spesialis Mata Subspesialis Pediatric Ophthalmology and Strabismus RS Awal Bros Batam, DR. dr. Feti Karfiati, Sp.M(K), M.Kes.
Ia mencontohkan, penderita mata juling yang hanya menggunakan satu mata akan kesulitan menangkap efek tiga dimensi, seperti saat menonton film 3D.
Dr. Feti menegaskan, penanganan mata juling tidak selalu harus dengan operasi. Ada beberapa pilihan terapi, seperti penggunaan kacamata dan latihan mata.
“Kuncinya adalah pemeriksaan terlebih dahulu. Penanganan tergantung penyebab dan derajat mata julingnya,” ujar dr. Feti.
Jika operasi memang diperlukan, jumlah tindakan juga bergantung pada tingkat keparahan. Sebelum operasi, derajat juling akan diukur menggunakan prisma diopter.
“Kalau derajatnya tidak besar, umumnya cukup satu kali operasi. Namun, pada kasus tertentu bisa melibatkan lebih dari satu otot mata, sehingga waktu operasi dan tindakannya juga berbeda,” ujarnya.
Dr Feti menjelaskan tidak semua mata juling membutuhkan operasi berulang. Jumlah tindakan operasi sangat bergantung pada derajat keparahan juling dan jenis otot mata yang terlibat.
Sebelum operasi dilakukan, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh dengan mengukur sudut juling menggunakan prisma diopter. Dari hasil pengukuran tersebut, dokter dapat menentukan tingkat keparahan mata juling serta rencana operasi yang paling tepat.
“Jika derajat juling tidak terlalu besar, misalnya hingga sekitar 50 prisma diopter, umumnya masih memungkinkan dilakukan satu kali operasi. Hal ini terutama berlaku pada juling yang mengarah ke luar atau ke dalam,” kata dr Feti.
Namun, pada kasus juling ke dalam, penanganannya bisa lebih kompleks. Pasalnya, otot yang menarik bola mata ke arah dalam memiliki kekuatan lebih besar dibandingkan otot yang menarik ke arah luar. Meski demikian, dengan perencanaan yang tepat, satu kali operasi tetap diharapkan dapat memberikan hasil yang baik.

Tindakan operasi mata juling tidak selalu sama pada setiap pasien. Dokter akan menyesuaikan apakah cukup menangani satu otot, atau perlu melibatkan dua hingga tiga otot sekaligus. Penanganan bisa berupa melemahkan otot, memotong, atau memindahkan posisi otot agar keseimbangan gerak mata kembali normal.
Secara anatomi, otot penggerak bola mata terdiri dari tiga pasang otot.
Pertama, otot horizontal, yang menggerakkan mata ke kanan dan ke kiri. Pada kasus strabismus horizontal, penanganan biasanya cukup difokuskan pada otot ini, baik otot lateral maupun medial.
Kedua, otot vertikal, yaitu otot superior dan inferior yang menggerakkan mata ke atas dan ke bawah. Otot ini akan ditangani jika juling disertai gerakan elevasi (ke atas) atau depresi (ke bawah).
Ketiga, terdapat otot oblik (oblique) yang berfungsi memutar bola mata. Otot ini diperlukan pada kasus mata juling yang tidak murni horizontal maupun vertikal, tetapi disertai gerakan memutar ke dalam (insikotorsi) atau ke luar (eksikotorsi).
Meski tergolong lebih kompleks, operasi mata juling tetap memiliki tingkat keberhasilan yang baik apabila dilakukan dengan evaluasi dan perencanaan yang matang. Kunci utama keberhasilan adalah pemeriksaan awal yang teliti dan penanganan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Operasi mata juling dilakukan dengan bius umum dan biasanya berlangsung antara satu hingga dua jam, tergantung jumlah otot mata yang ditangani.
Pentingnya Deteksi Dini
Mata juling pada anak umumnya bukan untuk dicegah, melainkan dideteksi sejak dini. Beberapa tanda awal yang perlu diwaspadai orang tua antara lain mata anak yang kadang tampak melenceng, sering berkedip, atau kesulitan fokus saat melihat.
“Anak yang sering berkedip bisa jadi sedang mengalami penglihatan ganda sesaat. Ini bisa menjadi tanda mata juling yang sifatnya intermittent atau muncul sesekali,” ungkap dr. Feti.
Selain itu, pada mata juling ke dalam yang bersifat akomodatif, terlalu sering melihat jarak dekat justru dapat memperberat kondisi.
Orangtua disarankan membawa anak ke dokter mata sejak usia dini, terutama jika ada faktor risiko dalam keluarga.
“Jika ada riwayat mata juling, mata malas, atau penggunaan kacamata dengan kelainan berat dalam keluarga, sebaiknya anak diperiksa sebelum usia sekolah, sekitar usia 3–4 tahun,” imbaunya.
Deteksi dini sangat penting untuk mencegah gangguan penglihatan permanen dan memastikan perkembangan visual anak berlangsung optimal.
Cara Berinteraksi dengan Penderita Mata Juling
dr. Feti juga memberikan tips sederhana saat berbicara dengan seseorang yang memiliki mata juling.
“Arahkan pandangan ke mata yang lurus, karena mata yang melenceng biasanya tidak digunakan untuk melihat,” katanya.
Ia menambahkan, mata juling bukanlah kodrat yang tidak bisa diperbaiki. Sebagian besar kasus dapat ditangani dengan baik jika terdeteksi dan ditangani sejak dini.
“Mata juling itu bisa diperbaiki, meski memang ada beberapa kondisi tertentu yang tidak bisa dioperasi. Namun, kebanyakan kasus bisa ditangani dengan hasil yang baik,” tutup dr. Feti.
dr. Feti menjelaskan bahwa penanganan mata juling sangat bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.
“Tidak semua strabismus itu harus operasi. Ada juga yang cukup dikoreksi dengan penggunaan kacamata,” ujarnya.
Menurut dr. Feti, anggapan bahwa mata juling bersifat permanen dan tidak bisa diperbaiki perlu diluruskan. Mata juling memang bisa didapat seiring waktu, namun bukan berarti tidak dapat dikoreksi.
“Mata juling itu bukan penyakit yang tidak bisa diperbaiki. Walaupun didapat, insya Allah masih bisa dikoreksi, terutama jika ditangani sejak dini,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya pemeriksaan dan penanganan sejak awal, terutama pada anak-anak, karena fase awal perkembangan penglihatan menjadi masa krusial untuk hasil terapi yang optimal.
Sebagai bagian dari layanan unggulan, Eye Center di Rumah Sakit Awal Bros menjadi salah satu pusat layanan yang fokus menangani berbagai gangguan penglihatan, termasuk kasus mata juling. Dengan dukungan tenaga medis dan fasilitas yang memadai, penanganan mata juling dapat dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan awal hingga terapi lanjutan.
“Untuk kasus mata juling, masyarakat tidak perlu pergi jauh. Datang saja ke sini, insya Allah akan kami kawal dari awal prosesnya,” kata dr. Feti.
Ia juga menegaskan bahwa penanganan dilakukan secara bertahap, dimulai dari evaluasi awal, terapi nonbedah seperti kacamata atau latihan mata, hingga tindakan lanjutan bila memang diperlukan.
Dengan penanganan yang tepat dan dilakukan sedini mungkin, mata juling bukan hanya dapat diperbaiki secara fungsi, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas hidup dan kepercayaan diri pasien. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY