Buka konten ini

LEZAT di lidah, keju rupanya juga ramah bagi otak. Di balik rasanya yang gurih dan kaya, makanan berbahan dasar susu ini menyimpan potensi manfaat kesehatan, termasuk menekan risiko demensia.
Keju mengandung beragam nutrisi penting seperti protein, kalsium, dan vitamin B12. Kandungan inilah yang berperan dalam menjaga fungsi saraf serta menopang kinerja kognitif. Tak mengherankan bila keju kian dilirik sebagai camilan yang bukan hanya memanjakan selera, tetapi juga menyehatkan pikiran.
Dikutip dari People, sebuah riset terbaru yang dimuat dalam jurnal Neurology mengungkap temuan menarik. Pola makan yang memasukkan keju berlemak tinggi disebut berpotensi menurunkan risiko demensia. Sebaliknya, produk susu rendah lemak—termasuk keju dan krim versi rendah lemak—tidak menunjukkan kaitan berarti dengan penurunan risiko tersebut.
Penelitian ini melibatkan lebih dari 27 ribu peserta. Hasilnya, mereka yang rutin mengonsumsi keju berlemak tinggi tercatat memiliki risiko demensia 13 persen lebih rendah. Sementara itu, konsumsi krim berlemak tinggi dikaitkan dengan penurunan risiko hingga 16 persen.
Dalam studi ini, kategori “berlemak tinggi” merujuk pada produk susu dengan kandungan lemak minimal 2,5 persen untuk susu dan susu fermentasi, 20 persen untuk keju, serta 30 persen untuk krim. Jenis keju yang masuk kelompok ini antara lain keju lunak seperti camembert dan brie, keju keras seperti cheddar, hingga keju semi-lunak seperti gouda dan gruyere. Keju biru, termasuk stilton, juga masuk dalam daftar.
Tak hanya itu. Peneliti juga menemukan bahwa kelompok yang mengonsumsi keju berlemak tinggi cenderung memiliki prevalensi diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, hingga stroke yang lebih rendah.
Namun, para ahli mengingatkan agar manfaat ini tidak disalahartikan. Makanan tinggi lemak tetap berisiko meningkatkan kadar kolesterol dan berdampak pada kesehatan jantung bila dikonsumsi berlebihan. Artinya, kunci tetap ada pada porsi dan keseimbangan.
Peneliti Sonestedt menegaskan, menjaga kesehatan otak tidak bisa bertumpu pada satu jenis makanan saja. Gaya hidup sehat secara menyeluruh tetap menjadi fondasi utama—mulai dari tidak merokok, aktif bergerak, menjaga tekanan dan gula darah, mengontrol berat badan, hingga menerapkan pola makan seimbang.
Keju berlemak tinggi memang dinilai memiliki potensi mendukung kesehatan otak. Namun, konsumsinya tetap perlu dilakukan secara bijak. Dengan porsi yang tepat, keju bisa menjadi bagian dari asupan harian yang tak hanya nikmat, tetapi juga membantu menjaga fungsi kognitif dan kualitas hidup. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO