Buka konten ini

SURABAYA (BP) – Lanskap ekonomi paruh waktu atau gig economy di Indonesia mulai mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya banyak didominasi aktivitas penjualan barang fisik seperti dropshipping, kini sumber pendapatan justru mengarah ke sektor jasa digital yang dinilai lebih fleksibel serta memiliki risiko usaha lebih rendah.
CEO BisnisOn Group, Mas Tama, mengungkapkan meningkatnya kebutuhan akan social proof—seperti jumlah pengikut, tingkat interaksi, hingga validasi digital—di kalangan pelaku UMKM dan influencer mikro telah melahirkan pasar baru bernilai miliaran rupiah. Peluang tersebut dimanfaatkan masyarakat dengan berperan sebagai perantara jasa pemasaran digital tanpa perlu memiliki infrastruktur teknologi sendiri.
“Berjualan jasa media sosial berbeda dengan produk fisik. Margin keuntungannya lebih luwes dengan risiko operasional yang hampir tidak ada. Brand membutuhkan validasi cepat, dan ribuan perantara digital siap memenuhi kebutuhan itu,” katanya, Jumat (26/12).
Mas Tama menjelaskan, masih banyak pelaku pemula yang belum memahami ekosistem di balik maraknya agensi digital skala kecil di media sosial. Di balik operasionalnya, terdapat infrastruktur bisnis ke bisnis (B2B) khusus yang dikenal sebagai panel SMM reseller. Sistem ini berfungsi sebagai backend yang memproses jutaan permintaan interaksi secara otomatis melalui teknologi API.
“Dengan dukungan teknologi ini, seorang mahasiswa pun bisa menjalankan bisnis setara agensi profesional hanya dari kamar kos. Seluruh proses produksi ditangani oleh sistem terpusat,” jelasnya.
Kendati menawarkan potensi besar, sektor ini juga menghadapi tantangan. Salah satu persoalan utama adalah panjangnya rantai distribusi. Berdasarkan kajian internal industri, layanan digital kerap melewati tiga hingga empat lapisan perantara sebelum sampai ke pengguna akhir. Akibatnya, harga menjadi lebih tinggi dan kualitas layanan berisiko menurun ketika terjadi kendala teknis.
Oleh karena itu, pemangkasan rantai pasok dinilai krusial untuk menjaga profitabilitas. Tren terbaru menunjukkan peralihan dari pemanfaatan marketplace umum menuju infrastruktur B2B yang terhubung langsung dengan penyedia layanan.
Dengan akses langsung ke sumber layanan, pelaku usaha dapat menekan harga pokok. “Dengan begitu, margin tetap terjaga meskipun persaingan harga semakin ketat,” tutupnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO