Buka konten ini

DI tengah kebutuhan hunian yang terus meningkat, persoalan keterlambatan serah terima rumah masih menjadi keluhan dominan di industri properti nasional. Tidak sedikit konsumen terpaksa menunggu berbulan-bulan, bahkan hingga bertahun-tahun, lantaran proyek hunian tak kunjung rampung sesuai rencana.
Situasi tersebut menjadikan isu serah terima bukan semata persoalan teknis pembangunan. Lebih dari itu, keterlambatan menyentuh aspek kepastian hukum, perencanaan finansial, hingga stabilitas sosial bagi para pembeli rumah.
Pada kondisi pasar properti yang relatif stabil namun kian selektif, rekam jejak pengembang dalam menepati jadwal pembangunan menjadi pertimbangan utama masyarakat.
Ketepatan waktu serah terima kini dipandang sebagai tolok ukur disiplin dan kredibilitas pengembang, terlebih setelah maraknya proyek hunian yang tertunda akibat pandemi serta kenaikan biaya konstruksi.
Isu tersebut mengemuka seiring langkah pengembang kawasan Podomoro Golf View (PGV) yang mempercepat serah terima rumah tahap kedua di Cluster Khaya, Cimanggis, Jawa Barat. Serah terima dilakukan sekitar tujuh bulan lebih awal dari jadwal semula.
Sebanyak 15 unit rumah tipe Ivory diserahkan kepada konsumen pada Desember 2025, meski sebelumnya dijadwalkan pada Juli 2026. Percepatan ini menyusul serah terima tahap awal yang telah mencakup sekitar 26 unit hunian.
Marketing Manager Podomoro Golf View, Ellya, menyebut ketepatan penyelesaian hunian menjadi faktor krusial dalam menjaga kepercayaan konsumen, khususnya di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi sektor properti.
Menurutnya, kepastian serah terima tidak hanya berkaitan dengan progres konstruksi, tetapi juga berdampak langsung pada perencanaan hidup dan keuangan pembeli.
“Bagi konsumen, kepastian waktu sangat menentukan. Mulai dari perhitungan finansial, rencana pindah rumah, sampai perencanaan jangka panjang keluarga,” ujar Ellya dalam keterangannya.
Cluster Khaya sendiri dirancang menghadirkan total 303 unit hunian dengan beragam tipe. Hingga akhir 2025, progres pembangunan cluster ini diklaim telah mencapai sekitar 50 persen. Pengembang menyatakan percepatan serah terima dilakukan seiring strategi pembangunan kawasan yang dilaksanakan secara bertahap.
Dari sisi pengelolaan kawasan, Chief Operating Officer Inner City Management selaku pengelola Podomoro Golf View, Krisdiarto Adi Pranoto, menekankan pentingnya kesiapan operasional agar hunian dapat langsung ditempati.
“Serah terima bukan hanya soal bangunan selesai, tetapi juga kesiapan lingkungan dan layanan kawasan supaya penghuni bisa langsung beraktivitas dengan nyaman,” kata Krisdiarto.
Percepatan serah terima tersebut berlangsung di tengah pasar properti residensial yang relatif terjaga.
Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Triwulan III 2025, harga properti residensial di pasar primer masih tumbuh 0,84 persen secara tahunan.
Pertumbuhan ini mencerminkan permintaan yang belum sepenuhnya melemah, terutama dengan dukungan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Namun, konsumen kini cenderung lebih berhati-hati dan memberi perhatian besar pada rekam jejak pengembang, termasuk kepastian penyelesaian proyek.
Serangkaian keterlambatan serah terima yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat isu ini semakin sensitif dan menjadi pertimbangan utama sebelum masyarakat memutuskan membeli hunian. (***)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO