Buka konten ini

BENCANA banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra meninggalkan dampak signifikan bagi masyarakat. Ribuan korban jiwa, jalan terputus, dan gedung-gedung sekolah mengalami kerusakan.
Meski kondisi demikian, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan pendidikan anak tetap harus berlanjut, walaupun tidak dilakukan di gedung sekolah.
“Masalah pendidikan anak harus tetap berjalan, meskipun kondisi seperti apa pun. Pendidikan tidak harus selalu di gedung sekolah. Di tenda darurat pengungsian pun pendidikan anak harus tetap bisa dilakukan,” ujar Piprim saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (22/12).
Menurut Piprim, konsep sekolah darurat di tenda pengungsian memungkinkan anak-anak tetap belajar. Materi yang diajarkan meliputi perilaku hidup bersih dan sehat, cara mencuci tangan, pentingnya imunisasi, hingga memilih nutrisi yang tepat.
“Ini juga merupakan kesempatan mengajarkan anak-anak bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian. Pendidikan mereka tetap harus berlanjut, meski bukan dalam bentuk sekolah formal,” tambahnya.
Piprim juga mengakui bahwa bencana alam meninggalkan jejak trauma bagi anak-anak. Beberapa menunjukkan perilaku menyendiri, mogok makan, hingga gangguan tidur, yang bervariasi tergantung usia dan kematangan psikologis masing-masing anak.
“Beberapa anak jadi menyendiri, tidak mau makan atau minum, bahkan mengalami gangguan tidur. Reaksinya berbeda-beda, tergantung usia dan kematangan psikologis mereka,” ujarnya.
Untuk itu, dokter bekerja sama dengan psikolog dan psikiater anak guna menangani trauma jangka pendek maupun post-traumatik. Para tenaga medis juga menggunakan pendekatan kreatif, seperti mengajak anak bermain, membuat burung-burungan dari kertas, atau mengenakan topi superhero, untuk membantu proses pemulihan mental.
“Tingkat penyembuhan anak berbeda. Bagi yang psikologisnya lebih matang, pemulihan cepat. Sebaliknya, anak dengan kondisi psikologis belum matang bisa mengalami trauma lebih mendalam,” kata Piprim.
Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga menjadi perhatian penting. Menurut Piprim, kegiatan bermain di tengah bencana dapat mengenalkan konsep kesabaran, resilience, dan hikmah dari bencana, sehingga anak belajar mengelola emosi dan pengalaman traumatik. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO