Buka konten ini

BANYAK perempuan merasa sudah jungkir balik menjaga makan dan rutin berolahraga, tetapi lemak di paha, pinggul, atau lengan tetap bertahan. Bandel. Seolah punya kehendak sendiri.
Menurut dr. Ide Bagoes Insani, jawabannya ada pada cara tubuh perempuan bekerja. Secara fisiologis dan hormonal, tubuh perempuan menyimpan lemak dengan pola yang berbeda dibanding laki-laki.
“Kalau laki-laki, gemuknya biasanya sentral, di perut,” kata dr. Ide. “Perempuan beda. Obesitasnya cenderung perifer, menyeluruh. Makanya sering menumpuk di pantat, paha, dan pinggul.”
Pola ini membuat bagian-bagian tertentu menjadi lebih sulit mengecil hanya dengan diet dan olahraga. Lemak di area tersebut kerap menjadi “lemak membandel”. Bukan hanya mengganggu proporsi tubuh dan rasa percaya diri, tapi juga berisiko pada kesehatan—mulai dari sindrom metabolik, gangguan pembuluh darah, hingga fungsi organ. Di titik inilah teknologi medis modern masuk menawarkan jalan lain: laser-assisted liposuction.
Berbeda dari sedot lemak konvensional, prosedur ini memanfaatkan teknologi laser untuk membantu proses pengambilan lemak.
“Kuncinya adalah liposuction yang digabungkan dengan energy-based device. Kami menggunakan laser 1470 nanometer,” ujar dr. Ide.
Laser bekerja lebih dulu melunakkan lemak. Akibatnya, proses penyedotan menjadi lebih ringan. “Effort-nya jauh lebih kecil karena lemak sudah dilunakkan,” jelasnya.
Tak berhenti di situ. Manfaat kedua justru terasa di kulit. Setelah lemak diambil, kulit dapat beradaptasi dengan lebih baik terhadap bentuk baru tubuh.
“Kulit bisa langsung mengenggam ke bawahnya. Pengecangan kulit jauh lebih baik dibanding liposuction konvensional,” kata Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruktif dan Estetik RS Pondok Indah–Pondok Indah tersebut.
Itulah sebabnya, laser-assisted liposuction minim risiko kulit bergelambir—masalah yang kerap muncul pada metode lama. Namun, meski tergolong aman, prosedur ini bukan untuk semua orang. “Keamanan pasien itu nomor satu,” tegas dr. Ide.
Setiap calon pasien harus melewati penyaringan ketat. Mulai dari pemeriksaan fisik, tes laboratorium untuk menilai fungsi organ dan darah, rekam jantung, hingga konsultasi dengan dokter penyakit dalam, jantung, dan anestesi.
Ada batas yang tak bisa ditawar. Ibu menyusui, misalnya. “Saya tidak pernah melakukan prosedur kepada ibu menyusui. Prioritasnya bayinya dulu,” ujarnya.
Pasien dengan penyakit yang belum terkontrol—hipertensi, diabetes, penyakit jantung, riwayat stroke berat, atau yang sedang mengonsumsi pengencer darah—juga tidak dianjurkan. Apalagi ibu hamil. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO