Buka konten ini

BATUAMPAR (BP) – Bea Cukai Batam mencatat lonjakan signifikan penindakan sepanjang 2025. Hingga awal Desember, jumlah kasus yang ditangani mencapai 1.832 perkara, meningkat hampir 200 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 565 kasus.
Kepala Bidang Kepatuhan dan Layanan Informasi (Kabid BKLI) Bea Cukai Batam, Evi Oktavia, mengatakan angka tersebut masih berpotensi bertambah hingga akhir tahun. Pasalnya, menjelang tutup tahun kerap terjadi peningkatan aktivitas penyelundupan.
“Ini data sampai awal Desember. Untuk sampai akhir tahun masih berjalan dan sedang kami rekap,” ujarnya, Senin (22/12).
Evi menjelaskan, penindakan Bea Cukai Batam didominasi Operasi Cukai dengan 549 kasus atau sekitar 30 persen dari total Surat Bukti Penindakan (SBP). Dari jumlah tersebut, penyelundupan rokok ilegal menjadi temuan terbanyak, dengan total mencapai 26 juta batang.
Selain itu, penindakan terhadap barang bawaan penumpang tercatat sebanyak 402 kasus, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Komoditas yang paling sering ditindak antara lain balpres, rokok, uang tunai lintas batas, serta barang elektronik.
Penindakan di sektor pelabuhan dan aktivitas impor juga cukup tinggi, yakni 390 kasus. Sementara itu, untuk Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor (NPP), Bea Cukai Batam mencatat 56 kasus penindakan.
“Rincian lengkap akan kami sampaikan dalam Kaleidoskop 2025. Yang pasti, seluruh barang hasil penindakan telah kami amankan dan akan dimusnahkan sesuai ketentuan,” kata Evi.
Sementara itu, Kepala Bea Cukai Batam Zaky Firmansyah menegaskan, peningkatan jumlah penindakan merupakan hasil intensifikasi pengawasan di seluruh lini serta penguatan sinergi antarbidang.
“Kami berkomitmen menekan peredaran barang ilegal di Batam melalui strategi pengawasan terpadu dan berbasis intelijen,” ujarnya.
Menurut Zaky, capaian tersebut juga sejalan dengan program Customs Enforcement Intensification yang menitikberatkan pada operasi cukai ilegal, pengawasan pelabuhan dan perairan, penumpang, serta penindakan narkotika.
“Lonjakan penindakan ini bukan berarti pelanggaran meningkat, melainkan menunjukkan efektivitas pengawasan yang kami lakukan,” tutupnya. (***)
Reporter : YOFI YUHENDRI
Editor : GALIH ADI SAPUTRO