Buka konten ini

HUJAN deras yang mengguyur Kota Batam dalam beberapa hari terakhir memicu banjir di sejumlah kawasan, terutama di wilayah Batuaji. Sedikitnya lima lokasi dilaporkan kerap terendam, yakni Perumahan Harapan Putra Moro, Perumahan Bumi Sarana Indah, Perumahan Senawangi, Perumahan Taman Karina, serta kawasan Tembesi Bengkel. Akibatnya, sekitar 340 kepala keluarga (KK) terdampak.
Banjir diduga dipicu sistem drainase yang tidak memadai, diperparah sedimentasi tanah dan penumpukan sampah di saluran air. Kondisi tersebut semakin buruk karena tingginya curah hujan yang terjadi bersamaan dengan pasang laut.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam, Dohar Hasibuan, mengatakan pihaknya langsung bergerak cepat menangani kondisi tersebut. Sehari setelah banjir terjadi, alat berat diturunkan ke sejumlah titik terdampak.
“Sehari setelah kejadian, kami langsung menurunkan dua unit alat berat di Perumahan Taman Karina, Batuaji. Alat ini digunakan untuk membersihkan saluran primer yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi tanah dan penumpukan sampah,” ujar Dohar saat dihubungi, Senin (22/12) siang.
Ia menjelaskan, pendangkalan saluran utama menjadi salah satu penyebab utama terhambatnya aliran air. Karena itu, normalisasi drainase menjadi prioritas dalam penanganan banjir.
“Pendangkalan memang cukup parah. Sedimentasi sudah banyak, sehingga langsung kami turunkan alat berat ke lokasi,” katanya.
Menurut Dohar, aliran drainase di kawasan tersebut bermuara hingga ke Perumahan Laguna. Untuk memastikan aliran air kembali lancar, Pemko Batam melalui Dinas Bina Marga menurunkan dua unit alat berat di sejumlah titik.
“Untuk Perumahan Taman Karina dan Senawangi sudah kami tangani. Kejadiannya hari Jumat, dan Sabtunya alat langsung kami masukkan. Mudah-mudahan bisa diselesaikan dengan baik,” ujarnya.
Dohar menambahkan, secara umum banjir terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi dalam waktu singkat dan bersamaan dengan pasang laut. Meski demikian, air di sejumlah lokasi relatif cepat surut, sekitar 30 menit setelah hujan reda.
“Curah hujan memang tinggi, tetapi dalam 30 menit air sudah mulai surut.
Sehari setelahnya, kami langsung melakukan normalisasi di saluran primer yang mengalami sedimentasi dan penumpukan sampah,” jelasnya.
Selain di Batuaji, penanganan banjir juga dilakukan di titik-titik lain yang kerap tergenang. Salah satunya di kawasan Pesona Asri, yang sering terdampak akibat sistem drainase yang belum optimal.
“Di Pesona Asri juga sudah kami turunkan alat berat amfibi, tepatnya di sekitar SPBU Bandara Hang Nadim,” kata Dohar.
Penanganan serupa turut dilakukan di Sungai Pelunggut yang kerap meluap saat hujan berintensitas tinggi. Normalisasi drainase dan pengerukan sedimentasi di kawasan tersebut telah dilakukan menggunakan alat berat.
“Di Sungai Pelunggut juga sudah kami tangani. Jika masih ada titik banjir lainnya, akan tetap kami tindak lanjuti,” tegasnya. (***)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO