Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Peta industri perbankan syariah nasional bertambah satu pemain. Bank Syariah Nasional (BSN) resmi memulai operasional, kemarin (22/12), setelah menyelesaikan proses pemisahan usaha (spin-off) dari Bank Tabungan Negara (BTN). Dalam langkah awalnya, BSN menyiapkan strategi penguatan layanan digital yang ditopang jaringan kantor fisik.
Pada tahap awal operasional, BSN mengelola 35 kantor cabang syariah, 76 kantor cabang pembantu syariah, serta 589 kantor layanan syariah yang tersebar di berbagai wilayah. Direktur Utama BSN, Alex Sofjan Noor, mengatakan dimulainya layanan kepada nasabah menandai babak baru perjalanan perseroan dalam menjalankan strategi bisnis yang lebih agresif dan adaptif.
Ia menegaskan, kesiapan operasional BSN merupakan hasil dari proses panjang dengan dukungan para pemangku kepentingan. “Dengan fondasi yang solid dan peluang besar di ekosistem perbankan syariah, kami optimistis BSN mampu meningkatkan kinerja sekaligus memperkuat perannya sebagai penggerak industri,” ujar Alex di Kantor Cabang BSN Jakarta Harmoni, kemarin (22/12).
Menurut Alex, potensi pengembangan perbankan syariah di Indonesia masih terbuka lebar dan tidak terbatas pada pembiayaan perumahan. Beragam produk seperti tabungan emas, tabungan haji dan umrah, hingga layanan gadai emas dinilai memiliki prospek cerah, seiring jumlah penduduk Muslim Indonesia yang mencapai 242,7 juta jiwa.
Peluang tersebut juga tercermin dari Indeks Literasi Keuangan Syariah (ILKS) yang pada 2024 telah mencapai 39,11 persen. Namun, Indeks Inklusi Keuangan Syariah masih berada di angka 12,88 persen. Kondisi ini menunjukkan tantangan utama terletak pada perluasan akses terhadap produk dan layanan, bukan pada tingkat pemahaman masyarakat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BSN mengombinasikan penguatan layanan digital dengan keberadaan jaringan kantor fisik. “Kami memadukan layanan digital dan luring agar produk syariah semakin mudah dijangkau masyarakat. Edukasi juga terus kami lakukan bahwa layanan syariah terbuka untuk seluruh lapisan,” kata Alex.
Dari sisi kinerja, hingga September 2025 saat masih berstatus Unit Usaha Syariah BTN, pembiayaan tercatat tumbuh 19,7 persen secara tahunan menjadi Rp51,1 triliun. Sementara dana pihak ketiga meningkat 19,3 persen menjadi Rp56,9 triliun. (mim/dio)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO